Oleh : Muhamad Redho al-Faritzi
1. KEUTAMAAN
SHALAT DHUHA
Shalat Dhuha adalah shalat sunat yang diselanggarakan di waktu dhuha. Waktu dhuha itu sendiri mulai dari terbit matahari sampai menjelang dzuhur. [1]
a. Ahli Taubat
لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب
Tidak ada yang bisa merutinkan shalat Dhuha selain orang yang awwab (ahli taubat, selalu kembali kepada Allah, selalu taat).[2]
b. Mewakili Semua Amal Shadaqah pada Pagi hari
وعَنْ أَبي ذَر رَضِي اللَّه عَنْهُ ، عن النبيِّ
صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « يُصبِحُ عَلى كُلِّ سُلامَى مِنْ أَحدِكُمْ
صدقَةٌ : فَكُلُّ تَسبِيحة صدَقةٌ ،وكل تحميدة صدقة ، وكُل تَهليلَةٍ صدَقَةٌ ،
وَكُلُّ تكبيرة صدَقةٌ ، وأَمر بالمعْروفِ صدقَةٌ ، ونهيٌ عنِ المُنْكَرِ صدقَةٌ ،
ويُجْزِئ مِن ذلكَ ركْعتَانِ يركَعُهُما مِنَ الضحى » رواه مسلم .
"Setiap pagi semua
tulang/persendian kalian harus bershadaqah. Dan setiap tasbih itu adalah
shodaqoh setiap Tahmid tahlil dan takbir juga shodaqoh. Amar ma'ruf nahi munkar
juga shodaqoh. Dan cukup untuk mewakili semua amal itu dengan dua rakaat yang
dikerjakan pada waktu Dhuha[3]
Imam an-Nawawi berkata
dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim sebagai berikut :
وَفِيهِ دَلِيل عَلَى عِظَم
فَضْل الضُّحَى وَكَبِير مَوْقِعهَا ، وَأَنَّهَا تَصِحُّ رَكْعَتَيْنِ
"Hadits ini menjadi
dalil agungnya dan keutamaan shalat Dhuha dan pentingnya kedudukannya. Dan
bahwasannya shalat Dhuha itu sah dengan dua raka'at".[4]
2. JUMLAH
RAKA'AT SHALAT DHUHA
عن عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت: كان
رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي الضحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ الله
“Rasulullah saw shalat
Dhuha empat raka'at dan beliau menambahnya lagi sekehendak Allah.” [5]
Al-hafizh Ibnu Hajar dalam
at-Talkhisul habir, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh utsaimin dalam majmu'
fatawa-nya, sama-sama menyatakan bahwa hadis di atas menjadi dalil bahwa rakaat
salat Dhuha tidak ada batasannya.[6]
Menurut as-Shan'ani dalam
Subulus-salam, Hadits Aisyah menunjukkan bahwa yang biasa Nabi Saw rutinkan 4
rakaat meski Nabi Saw membolehkan minimal 2 rakaat. Untuk yang 4 raka'at ke atas
cara pelaksanaannya bisa dengan satu kali salam atau salam setiap 2 rakaat.
Berdasarkan hadits,
"Shalat (sunat) malam
dan siang itu dua raka'at-dua raka'at [salam pada setiap dua rakaat]."[7]
3. WAKTU
UTAMA SHALAT DHUHA
Waktu yang paling utama
untuk pelaksanaan shalat Dhuha adalah ketika ترمض الفصال (anak unta kepanasan) atau
ketika matahari mulai terasa panasnya. Jika diukurkan pada jam hari ini sekitar
jam 10.00-menjelang dzuhur.
عن زيدِ بن أَرْقَم رَضِي اللَّه عنْهُ ، أَنَّهُ
رَأَى قَوْماً يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى ، فقال : أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ
الصَّلاةَ في غَيْرِ هذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ ، إنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ
عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : صَلاةُ الأوَّابِينَ حِينَ ترْمَضُ الفِصَالُ
Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu
anhu bahwasanya ia melihat sekelompok kaum -beberapa orang- sama melakukan
shalat Dhuha lalu ia berkata: "Apakah orang-orang tidak mengetahui
bahwa shalat Dhuha di waktu selain ini adalah lebih utama, sesungguhnya
Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Shalatnya orang-orang yang
bertaubat itu ialah jikalau anak-anak unta itu telah merasa panas matahari."
[8]
Meskipun tidak apa-apa jika
dilaksanakan sesudah matahari terbit, namun tetap yang lebih utama adalah
antara jam 10.00-menjelang dzuhur, sebagaimana dijelaskan dalam hadits diatas.
[1] Nashruddin Syarief, Menuju Islam
Kaffah 3, Bandung : Tsaqifa Publishing, 2019, hal. 124
[2]Shahih Ibn Khuzaimah, Hal. 455. No. 1157
[3] Shahih Muslim bab Istihbab solat adh-Dhuha no. 720
[4] Syarah an-Nawawi
‘ala shahih muslim, No. 1181
[5] Shahih Muslim bab Istihbab solat adh-Dhuha
No. 719
[6] Nashruddin Syarief, Menuju Islam
Kaffah 3, Bandung : Tsaqifa Publishing, 2019, hal. 128
[7] Sunan at-Tirmidzi bab anna solat al-Lail wa an-Nahr
matsna matsna No. 597
[8] Shahih Muslim bab shalat al-Awwabin hiina
tarmadh al-Fishal No. 748
