|
P |
endidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, atau biasa disebut dengan
Bapak Pendidikan Nasional, pendidikan merupakan tuntunan tumbuh dan
berkembangnya anak.
Dalam bahasa
Inggris pendidikan berarti education. Sedangkan dalam bahasa latin, Pendidikan
berarti educatum yang berasal dari kata E dan Duco. E berarti
perkembangan dari luar dari dalam ataupun perkembangan dari sedikit menuju
banyak, sedangkan Duco berarti sedang berkembang. Dari sinilah,
pendidikan bisa juga disebut sebagai upaya guna mengembangkan kemampuan diri.
Pendidikan harus dimaknai secara
luas. Pendidikan bukanlah kegiatan yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam
artian, pendidikan bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun itu. Maka
sangatlah salah jika pendidikan hanya dibatasi di sekolah saja. Orang-orang
yang menganggap Pendidikan hanya di sekolah, menurut Dr. Adian Husaini adalah
orang yang terkena penyakit "sekolahisme". Sebuah penyakit pemikiran yang menyamakan pendidikan dengan
sekolah. Nama lainnya, formalisme. Asal sudah bersekolah, dianggap sudah
berpendidikan. Jika tidak sekolah, maka dianggap tidak berpendidikan. Padahal,
Pendidikan tidak hanya di sekolah atau universitas saja, atau pada waktu-waktu
tertentu saja. Karena sekarang, nyatanya banyak sekolah justru bukan menjadi
tempat pendidikan, melainkan dianggap hanya sekedar tempat penyelenggaraan
transaksi bisnis gelar dan ijazah. (Lihat Adian Husani, Bahaya Lain dari
"Sekolahisme", dalam artikel adianhusaini.id).
Pendidikan tidak sesempit itu. Orang
yang menjalankan pendidikan bisa menjalaninya dimana pun dan kapan pun itu.
Maka harus ditinjau kembali apa tujuan dari pendidikan itu. Sehingga tidak ada
lagi orang-orang yang terkena penyakit
"Sekolahisme" seperti yang Dr. Adian Husaini jelaskan.
Menurut Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi,
tujuan utama pendidikan dalam islam adalah untuk mencetak atau menghasilkan
manusia seutuhnya (insan kamil). Artinya manusia yang memiliki
keseimbangan antara kedewasaan intelektual, spiritual, dan moral. Dalam bahasa islam
keseimbangan antara ilmu, Iman, dan amal. (Lihat Hamid Fahmi Zarkasyi, Minhaj:
Berislam dari Ritual hingga Intelektual, Jakarta: INSIST, 2021)
Sedangkan tujuan dari pendidikan
secara umum bukan hanya untuk meningkatkan kecerdasan saja, tapi dapat mengubah
sikap dan tata laku seseorang juga. Dalam islam, biasa disebut dengan adab dan
akhlak. Orang yang mempunyai ilmu setinggi apa pun, jika adab dan akhlaknya
tidak ada, maka pendidikan yang dilakukannya selama bertahun-tahun itu tidak
ada gunanya. Seharusnya, semakin tinggi pendidikan yang dimilikinya, semakin
tinggi pula adab dan akhlaknya juga.
Menurut Will Durant, orang-orang
Athena (Yunani) pada abad kelima adalah salah satu contoh terbaik manusia tidak
berakhlak. Semangat menuntut ilmu yang luar biasa justru menjadi alasan mengapa
kaum intelektual di sana menjadi semakin biadab dan tidak bermoral. Mulai dari
hubungan seks bebas, sering mengingkari janji demi keuntungan sendiri, dan
senang mengakibatkan kehancuran mutlak ketika perang sekalipun sesama mereka
sendiri. Sehingga menjadi suatu hal yang lumrah bagi mereka yang bertumpuk
ilmunya, namun buruk perilakunya. (Lihat Madini Fatih, Solusi Kekacauan
Ilmu, Depok: Yayasan Pendidikan At-Taqwa Depok, 2022).
Begitu juga di Barat, perkembangan
teknologi di sana semakin maju, cepat bertumbuh dan berkembang. Namun, sikap
dan tata laku tidak diikutsertakan dalam kemajuan tersebut. Semakin maju
teknologinya, justru semakin mundur dan
hancur akhlaknya.
Maka para ulama dari dahulu sudah
memerintahkan agar mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu.
Imam Malik (90-174 H), beliau pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy,
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
"Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu".
Tidak hanya itu, menurut Dr. Adian
Husaini, tujuan dari pendidikan adalah menyelamatkan keluarga dari api neraka.
Mengingat pendidikan bukan hanya di sekolah, sehingga mendidik bukanlah tugas
guru saja, tetapi mendidik merupakan tugas orang tua juga di rumah. Tugas orang
tua bukan hanya mencari uang yang kemudian dibayarkan untuk sekolah anaknya.
Orang tua mempunyai tugas lebih dari itu dan harus mampu menanamkan keimanan,
adab dan akhlak kepada anak-anaknya.
Inilah bahaya lain dari
"sekolahisme" yang Dr. Adian Husaini jelaskan tadi. Dengan
beranggapan pendidikan hanya di sekolah, maka orang tua cukup mencarikan,
memasukan dan membiayai anaknya ke sekolah. Orang tua tidak sempat untuk
mendidik, karena sibuk dan capek dengan pekerjaan, bahkan merasa tidak wajib
untuk mendidik, karena menganggap bahwa kewajibannya hanyalah mencari nafkah
saja.
Padahal, kewajiban utama mereka adalah mendidik anak-anaknya. Tugas itu terletak pada pundaknya, sehingga sangatlah benar bahwa orang tua adalah madrasatul ula, sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, menurut Dr. Adian Husaini orang tua adalah guru terbaik bagi anak-anaknya; dan rumah adalah tempat belajar terbaik bagi anak-anaknya. Orang tua wajib belajar terus-menerus agar bisa menjadi guru yang baik, utamanya bagi anak-anaknya sendiri. Bukan hanya belajar dan memahami ilmu-ilmu yang diperlukan, kemampuan mendidik juga akan tumbuh bersama praktik pendidikan langsung. (Lihat Adian Husani, Bahaya Lain dari "Sekolahisme", dalam artikel adianhusaini.id).
Mengenal KH. Aceng Zakaria
Salah satu ulama yang membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya di sekolah saja adalah Ustadz Aceng Zakaria. Ulama yang meninggal tahun kemarin, pada hari Senin, 21 November 2022. Beliau adalah ulama kelahiran kota garut yang merupakan ulama hebat, pimpinan pesantren, pendakwah dan penulis produktif.
Beliau tidak memiliki gelar pendidikan apa pun. Secara formal, beliau merupakan lulusan Mu'allimin (setingkat SMA) di Pesantren Persis Pajagalan Bandung. Sosok guru, KH E. Abdurrahman sangat penting dalam Pendidikan Ustadz Aceng Zakaria. Gurunya itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap konsep pendidikannya. Ia melarang santrinya ikut Ujian Persamaan atau Kuliah di Perguruan Tinggi. Kyai Abdurrahman khawatir murid-muridnya nanti tidak mau menjadi mubaligh yang turun ke kampung-kampung mendakwahkan ajaran Islam.
Alhasil, Ustadz Aceng tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Karena setelah menyelesaikan pendidikannya di Mu'allimin, Ustadz Aceng Zakaria menuruti nasehat gurunya, untuk tetap di Bandung, dan menjadi guru di almamaternya itu. Tahun 1971, ia mulai dipercaya mengajar tingkat Ibtidaiyyah dan kemudian tingkat Tsanawiyah. Berikutnya, Ustadz Aceng juga mengajar di program Tamhidul Muballighin. Ustadz Aceng juga memiliki keahlian jual beli dan servis jam. (Lihat Dr. Adian Husaini, Mengenang K.H. Aceng Zakaria: Ulama Hebat Produk Pendidikan Lokal, Kualitas Internasional, dalam postingannya di Facebook).
Meskipun Ustadz Aceng tidak merasakan belajar di perguruan tinggi, namun dengan ilmunya yang tinggi, beliau mampu mendirikan perguruan tinggi di Garut, yaitu STAIPI (Sekolah Tinggi Agama Islam Persis ) Garut. Beliau pun tidak pernah mengenyam pendidikan formal di Timur Tengah, namun kemampuan Bahasa Arabnya sangatlah mumpuni. Beliau buktikan dengan lahirnya buku-buku berbahasa Arab. Dari 103 buku yang ia tulis, ada 33 buku yang beliau tulis dengan Bahasa Arab. Beberapa di antaranya : al-Hidayah fi Masaaili Fiqhiyyah al-Muta’aridhah, al-Muyassar fi Ilmi al-Nahwi, dan al-Kaafi fi Ilmi al-Sharfi.
Maka sangatlah tepat, jika Dr. Adian Husaini memberi judul tulisannya dengan; KH. Aceng Zakaria : Ulama Hebat Produk Pendidikan Lokal, Kualitas Internasional. Menurutnya pun, dengan membaca informasi tentang proses pendidikan ideal yang dijalani Ustadz Aceng Zakaria dapat memberikan model ideal dalam pendidikan, yaitu "TOP" (Tanamkan adab sebelum ilmu; Oetamakan Ilmu-ilmu fardhu 'ain; dan Pilih Ilmu fardhu kifayah yang tepat).
Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya di sekolah saja. Banyak sekali ulama hebat yang lahir dengan tanpa latar pendidikan yang formal. Bahkan di masa Nabi Muhammad saw pun sekolah tidak ada. Maka pertanyaannya, apakah karena di masa nabi tidak ada sekolah membuat nabi tidak berpendidikan?

