Al-Qur'an Hanya Sebatas Kreasi Manusia?






Muhamad Redho Al Faritzi

 

Desakralisasi Al-Qur'an hingga saat ini terus berlangsung dan semakin meluas. Dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga tokoh terkemuka. Al-Qur'an sering kali dianggap sebagai teks biasa, buatan manusia, bahkan dipandang sebagai hasil karya Nabi Muhammad SAW semata. Ada yang beranggapan bahwa Nabi sendiri yang menciptakan makna dan menyusun gaya serta bahasa Al-Qur'an. 

Akibatnya, autentisitas Al-Qur'an, terutama dari perspektif Barat, terus dipertanyakan. Mereka mengkajinya dan sering kali menarik kesimpulan yang kurang tepat. Pandangan seperti ini jelas menunjukkan pemahaman yang keliru dan menafikan sisi ilahi dari Al-Qur'an yang sebenarnya.

Tidak mengherankan jika banyak warga Indonesia yang terpengaruh oleh pandangan-pandangan Barat ini. Akibatnya, di Indonesia masih banyak, bahkan semakin banyak, orang yang menafsirkan Al-Qur'an sesuka hati tanpa memerhatikan metode tafsir yang benar, sehingga memunculkan berbagai kesalahpahaman yang terus berulang.

Hal-hal yang ada dalam Al-Qur'an kerap dianggap hanya sebagai cerminan budaya Arab, yang kemudian dipandang perlu diinterpretasi ulang—seperti aturan jilbab, potong tangan, hukum waris, perang, dan pernikahan antar-agama—agar sesuai dengan perkembangan zaman. [1]

Syaikh Manna' al-Qathan pernah menjelaskan bahwa anggapan al-Qur'an buatan manusia atau buatan Nabi Muhammad adalah asumsi batil. Apabila Nabi menghendaki kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung kekuasaannya, tidak perlu beliau menisbahkan semua itu kepada pihak lain. Dapat saja menisbatkan Al-Qur'an kepada dirinya langsung, karena hal itu cukup mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya. 

Sebab, kenyataannya tidak semua orang Arab dengan segala kefasihan bahasanya mampu menjawab tantangan itu. Bahkan ini mungkin lebih mendorong mereka untuk menerima kekuasaannya, karena dia juga salah seorang dari mereka yang dapat mendatangkan apa yang mereka sanggupi.[2]

Asumsi bahwa al-Qur'an hanya sebatas buatan manusia, otomatis menjadikan bahwa al-Qur'an bukanlah wahyu, melainkan sebatas teks biasa. Orang yang beranggapan seperti ini berarti ia juga telah mengingkari keberadaan wahyu.

Salah satu dari pengingkar wahyu adalah orang-orang barat. Orang-orang barat ini bisa dikatakan juga orang-orang jahiliyyah modern, yang dimana mereka seringkali meragukan wahyu dan mendefinisikannya secara tidak tepat. Sebagai contoh, wahyu Perspektif Barat, pernah dijelaskan oleh Dr. Nashruddin Syarief dalam bukunya :

Wahyu sebagai identitas utama agama Islam dipahami oleh sarjana Barat sebagaimana halnya wahyu dalam agama Kristen, yakni bukan sebagai firman Tuhan yang utuh diturunkan kepada Nabi, melainkan diinterpretasikan oleh Nabi, diinterpretasikan juga oleh murid-muridnya, lalu dituliskan sebagai teks manusiawi”.

Kemudian ia mengutip dari bukunya M. Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution, hlm. 28-29, bahwa William Sanday dari Universitas Oxford sejak tahun 1983, pernah berkata :

“Yang diwahyukan Tuhan itu bukan kalimat-kalimatnya, tetapi inspirasinya yang kemudian diinterpretasikan oleh penulis-penulis Bibel sehingga menjadi Bibel seperti yang sekarang”.[3]

Berbeda dengan wahyu perspektif Islam, wahyu itu sifatnya Metahistoris, artinya wahyu terlahir dari ruang kosong, tidak ada sejarahnya, tidak ada bacaan-bacaan yang mengikatnya.[4] Wahyu dalam perspektif Islam, pernah dijelaskan oleh Dr. Nashruddin dalam tulisannya, ia menjelaskan :

“Wahyu adalah tanzil/munazzal; diturunkan langsung. Artinya, apa yang diterima Nabi adalah murni sebagai firman Allah swt secara utuh. Tidak terkandung di dalamnya penafsiran dan pengalihan bahasa oleh malaikat atau oleh Nabi sendiri. Dari Allah swt-nya sudah berbahasa Arab, bukan dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab oleh Nabi saw. Oleh karenanya teks al-Qur`an, walau bagaimanapun, tidak akan sama dengan teks buatan penyair, ataupun jampi-jampi paranormal.”[5]

Lalu, bagaimana menjawab orang-orang yang beranggapan bahwa al-Qur'an itu tidak utuh, al-Qur'an hanya sebatas kreasi manusia, atau buatan Nabi Muhammad? Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud pernah menjelaskan bahwa ada enam argumentasi untuk menjawab sekaligus membuktikan bahwa al-Qur'an bukanlah buatan manusia, melainkan benar-benar firman dan wahyu Allah swt :

Pertama, al-Qur`an sendiri menantang orang-orang yang ragu tentang sumber ketuhanannya di enam tempat untuk membuat karya tandingannya.[6] Terbukti dengan jelas bahwa dari sejak zaman Nabi Muhammad saw sampai sekarang tidak ada satu pun manusia yang bisa membuat karya tandingan untuk al-Qur`an. Ketidakmungkinan al-Qur`an untuk ditiru ini merupakan bukti ilmiah bahwa al-Qur`an bukan karya manusia, melainkan firman Tuhan semesta alam.

Kedua, asumsi bahwa al-Qur`an merupakan produk sastra Muhammad saw adalah tidak benar, disebabkan Muhammad saw bukanlah seseorang yang bisa membaca dan menulis, terlebih menggubah sebuah karya sastra atau syair. Muhammad saw juga sudah dikenal di kalangan penduduk Makkah sebagai orang yang terpercaya (al-amîn), bukan seorang pembohong. Fakta bahwa sebuah karya sastra tidak terlalu berbeda dengan ekspresi kebahasaan keseharian seorang pembuatnya, juga tidak ditemukan pada Muhammad saw. Sebab sangat jelas sekali berbeda antara apa yang diungkapkan Muhammad saw dalam bahasa keseharian dengan lafazh-lafazh yang ada dalam al-Qur`an.

Ketiga, Nabi saw terbukti selalu mengagungkan bacaan al-Qur`an dengan isti’âdzat (membaca A’ûdzu bil-‘Llâh minas-syaitânir-rajîm) sebelum membacanya, sesuatu yang tidak dilakukannya untuk ucapannya yang selain al-Qur`an. Nabi saw juga selalu mengulang-ulang membacanya, baik di waktu siang di saat senggang ataupun di sebagian besar waktu malamnya. Kalau memang al-Qur`an itu ucapannya sendiri, tentu Nabi saw tidak akan mengulang-ulang membacanya dengan niat memohon petunjuk dan kekuatan.

Keempat, tema-tema yang terputus-putus dan beragam masih menjadi sifat ayat-ayat yang konsisten dan utuh yang, sejak awal sekali, dipahami sesuai dengan konteks sosio-historis ayat-ayat tertentu, adalah bukti bahwa al-Qur`an tidak dapat dikuasai oleh pikiran manusia. Terlebih pada faktanya banyak ayat-ayat yang menyoroti tentang alam dan ilmu pengetahuan yang baru ditemukan bukti penguatnya pada abad modern ini, dan sama sekali tidak mungkin terpikirkan oleh manusia di zaman al-Qur`an turun

Kelima, terdapat beberapa ayat yang menegur kekeliruan Nabi Muhammad saw (Misalnya ketika Nabi saw mengabaikan seorang yang buta, beliau ditegur dengan QS. Abasa [80]) dan dalam hal lain memperingatkannya untuk tidak mengubah-ubah firman Allah swt. (Misalnya QS. Al-Isra` [17] : 73-75 dan al-Haqqah [69] : 44-47). Ini menjadi bukti yang kuat bahwa al-Qur`an bukan buatan Nabi Muhammad saw, sebab tidak mungkin seorang pengarang sastra menegur dan memperingatkan dirinya sendiri.

Keenam, al-Qur`an melibatkan semua kalangan kaum Muslimin untuk berinteraksi dengannya, mulai dari membaca, menghafal dan mengkajinya, meskipun banyak di antara mereka yang tidak menguasai bahasa Arab. Ini menjadi bukti bahwa al-Qur`an bukan bacaan biasa, melainkan bacaan yang diturunkan dari Allah swt.[7]

Maka sudah jelas, bahwa al-Qur'an adalah Firman dan Wahyu Allah swt, bukan kreasi manusia, makna, bentuk gaya dan bahasanya bukan buatan Nabi Muhammad, tetapi langsung dari Allah swt.

تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ 43 وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ 46 فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ 47

"Ia (Al-Quran) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam (43)  Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, (44) pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. (45)  Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. (46) Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya).(47)."[8]                      


Wal-Lahu A'lam

[1] Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, (Bandung : Persis Pers, 2013), hal.143

[2] Syaikh Manna' al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al-Quran (Terjemahan dari Mabahits fii 'Ulumil Qur'an), (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2005), hal. 45

[3] Nashruddin Syarief, dalam tulisannya : Konsep Wahyu Islam vs Barat, hal. 2-3

[4] Ibid,  hal.151

[5] Ibid, hal. 20

[6] QS. al-Baqarah [2] : 23, an-Nisa` [4] : 82, Yunus [10] : 38, Hud [11] : 13-14, Al-Isra` [17] : 88, At-Thur [52] : 33-34

[7] The Concept of Knowledge in Islam and its Implication for Education in a Developing Country, terj. Munir, Konsep Pengetahuan dalam Islam, Bandung: Pustaka, 1997, hlm. 1-4. dikutip dari Dr. Nashruddin Syarief, dalam Makalah yang berjudul : Konsep Islam Agama Wahyu.

[8] Al-Haqqah [69] : 43-47 dan ayat yang serupa : Asy-Syu'ara [26] 192-195