Desakralisasi Al-Qur'an hingga saat ini terus berlangsung dan semakin meluas. Dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga tokoh terkemuka. Al-Qur'an sering kali dianggap sebagai teks biasa, buatan manusia, bahkan dipandang sebagai hasil karya Nabi Muhammad SAW semata. Ada yang beranggapan bahwa Nabi sendiri yang menciptakan makna dan menyusun gaya serta bahasa Al-Qur'an.
Akibatnya, autentisitas Al-Qur'an, terutama dari perspektif Barat, terus dipertanyakan. Mereka mengkajinya dan sering kali menarik kesimpulan yang kurang tepat. Pandangan seperti ini jelas menunjukkan pemahaman yang keliru dan menafikan sisi ilahi dari Al-Qur'an yang sebenarnya.
Tidak mengherankan jika banyak warga Indonesia yang terpengaruh oleh pandangan-pandangan Barat ini. Akibatnya, di Indonesia masih banyak, bahkan semakin banyak, orang yang menafsirkan Al-Qur'an sesuka hati tanpa memerhatikan metode tafsir yang benar, sehingga memunculkan berbagai kesalahpahaman yang terus berulang.
Hal-hal yang ada dalam Al-Qur'an kerap dianggap hanya sebagai cerminan budaya Arab, yang kemudian dipandang perlu diinterpretasi ulang—seperti aturan jilbab, potong tangan, hukum waris, perang, dan pernikahan antar-agama—agar sesuai dengan perkembangan zaman. [1]
Syaikh Manna' al-Qathan pernah menjelaskan bahwa anggapan al-Qur'an buatan manusia atau buatan Nabi Muhammad adalah asumsi batil. Apabila Nabi menghendaki kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung kekuasaannya, tidak perlu beliau menisbahkan semua itu kepada pihak lain. Dapat saja menisbatkan Al-Qur'an kepada dirinya langsung, karena hal itu cukup mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya.
Sebab, kenyataannya tidak
semua orang Arab dengan segala kefasihan bahasanya mampu menjawab
tantangan itu. Bahkan ini mungkin lebih mendorong mereka untuk menerima
kekuasaannya, karena dia juga salah seorang dari mereka yang dapat mendatangkan
apa yang mereka sanggupi.[2]
Asumsi bahwa al-Qur'an hanya sebatas buatan manusia, otomatis menjadikan bahwa
al-Qur'an bukanlah wahyu, melainkan sebatas teks biasa. Orang yang beranggapan
seperti ini berarti ia juga telah mengingkari
keberadaan wahyu.
Salah
satu dari pengingkar wahyu adalah orang-orang barat. Orang-orang barat ini bisa
dikatakan juga orang-orang jahiliyyah modern, yang dimana mereka seringkali
meragukan wahyu dan mendefinisikannya secara tidak tepat. Sebagai contoh, wahyu
Perspektif Barat, pernah dijelaskan oleh Dr. Nashruddin Syarief dalam bukunya :
“Wahyu
sebagai identitas utama agama Islam dipahami oleh sarjana Barat sebagaimana
halnya wahyu dalam agama Kristen, yakni bukan sebagai firman Tuhan yang utuh
diturunkan kepada Nabi, melainkan diinterpretasikan oleh Nabi,
diinterpretasikan juga oleh murid-muridnya, lalu dituliskan sebagai teks
manusiawi”.
Kemudian
ia mengutip dari bukunya M. Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution, hlm.
28-29, bahwa William Sanday dari Universitas Oxford sejak tahun 1983, pernah
berkata :
“Yang
diwahyukan Tuhan itu bukan kalimat-kalimatnya, tetapi inspirasinya yang kemudian
diinterpretasikan oleh penulis-penulis Bibel sehingga menjadi Bibel seperti
yang sekarang”.[3]
Berbeda dengan wahyu perspektif Islam, wahyu itu sifatnya Metahistoris, artinya wahyu terlahir dari ruang kosong, tidak ada sejarahnya, tidak ada bacaan-bacaan yang mengikatnya.[4] Wahyu dalam perspektif Islam, pernah dijelaskan oleh Dr. Nashruddin dalam tulisannya, ia menjelaskan :
“Wahyu
adalah tanzil/munazzal; diturunkan langsung. Artinya, apa yang diterima Nabi
adalah murni sebagai firman Allah swt secara utuh. Tidak terkandung di dalamnya
penafsiran dan pengalihan bahasa oleh malaikat atau oleh Nabi sendiri. Dari
Allah swt-nya sudah berbahasa Arab, bukan dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab
oleh Nabi saw. Oleh karenanya teks al-Qur`an, walau bagaimanapun, tidak akan
sama dengan teks buatan penyair, ataupun jampi-jampi paranormal.”[5]
Lalu,
bagaimana menjawab orang-orang yang beranggapan bahwa al-Qur'an itu tidak utuh,
al-Qur'an hanya sebatas kreasi manusia, atau buatan Nabi Muhammad? Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud pernah menjelaskan bahwa ada enam
argumentasi untuk menjawab sekaligus membuktikan bahwa al-Qur'an bukanlah
buatan manusia, melainkan benar-benar firman dan wahyu Allah swt :
Pertama, al-Qur`an sendiri
menantang orang-orang yang ragu tentang sumber ketuhanannya di enam tempat
untuk membuat karya tandingannya.[6]
Terbukti dengan jelas bahwa dari sejak zaman Nabi Muhammad saw sampai sekarang
tidak ada satu pun manusia yang bisa membuat karya tandingan untuk al-Qur`an.
Ketidakmungkinan al-Qur`an untuk ditiru ini merupakan bukti ilmiah bahwa
al-Qur`an bukan karya manusia, melainkan firman Tuhan semesta alam.
Kedua, asumsi bahwa
al-Qur`an merupakan produk sastra Muhammad saw adalah tidak benar, disebabkan
Muhammad saw bukanlah seseorang yang bisa membaca dan menulis, terlebih
menggubah sebuah karya sastra atau sya’ir. Muhammad saw juga sudah dikenal di
kalangan penduduk Makkah sebagai orang yang terpercaya (al-amîn),
bukan seorang pembohong. Fakta bahwa sebuah karya sastra tidak terlalu berbeda
dengan ekspresi kebahasaan keseharian seorang pembuatnya, juga tidak ditemukan
pada Muhammad saw. Sebab sangat jelas sekali berbeda antara apa yang
diungkapkan Muhammad saw dalam bahasa keseharian dengan lafazh-lafazh yang ada
dalam al-Qur`an.
Ketiga, Nabi saw terbukti
selalu mengagungkan bacaan al-Qur`an dengan isti’âdzat (membaca A’ûdzu bil-‘Llâh
minas-syaitânir-rajîm) sebelum membacanya, sesuatu yang tidak dilakukannya
untuk ucapannya yang selain al-Qur`an. Nabi saw juga selalu mengulang-ulang
membacanya, baik di waktu siang di saat senggang ataupun di sebagian besar
waktu malamnya. Kalau memang al-Qur`an itu ucapannya sendiri, tentu Nabi saw
tidak akan mengulang-ulang membacanya dengan niat memohon petunjuk dan
kekuatan.
Keempat, tema-tema yang
terputus-putus dan beragam masih menjadi sifat ayat-ayat yang konsisten dan
utuh yang, sejak awal sekali, dipahami sesuai dengan konteks sosio-historis
ayat-ayat tertentu, adalah bukti bahwa al-Qur`an tidak dapat dikuasai oleh
pikiran manusia. Terlebih pada faktanya banyak ayat-ayat yang menyoroti tentang
alam dan ilmu pengetahuan yang baru ditemukan bukti penguatnya pada abad modern
ini, dan sama sekali tidak mungkin terpikirkan oleh manusia di zaman al-Qur`an
turun
Kelima, terdapat beberapa
ayat yang menegur kekeliruan Nabi Muhammad saw (Misalnya ketika Nabi
saw mengabaikan seorang yang buta, beliau ditegur dengan QS. Abasa [80]) dan
dalam hal lain memperingatkannya untuk tidak mengubah-ubah firman Allah swt. (Misalnya
QS. Al-Isra` [17] : 73-75 dan al-Haqqah [69] : 44-47). Ini menjadi bukti
yang kuat bahwa al-Qur`an bukan buatan Nabi Muhammad saw, sebab tidak mungkin
seorang pengarang sastra menegur dan memperingatkan dirinya sendiri.
Keenam, al-Qur`an
melibatkan semua kalangan kaum Muslimin untuk berinteraksi dengannya, mulai
dari membaca, menghafal dan mengkajinya, meskipun banyak di antara mereka yang
tidak menguasai bahasa Arab. Ini menjadi bukti bahwa al-Qur`an bukan bacaan
biasa, melainkan bacaan yang diturunkan dari Allah swt.[7]
Maka
sudah jelas, bahwa al-Qur'an adalah Firman dan Wahyu Allah swt, bukan kreasi
manusia, makna, bentuk gaya dan bahasanya bukan buatan Nabi Muhammad, tetapi
langsung dari Allah swt.
تَنزِيلٌ
مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ 43 وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذْنَا
مِنْهُ بِالْيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ 46 فَمَا مِنكُم
مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ 47
"Ia (Al-Quran) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam (43) Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, (44) pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. (45) Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. (46) Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya).(47)."[8]
[1] Nashruddin Syarief, Menangkal
Virus Islam Liberal, (Bandung : Persis Pers, 2013), hal.143
[2]
Syaikh Manna' al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al-Quran (Terjemahan dari
Mabahits fii 'Ulumil Qur'an), (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2005), hal. 45
[3]
Nashruddin Syarief, dalam
tulisannya : Konsep Wahyu Islam vs Barat, hal. 2-3
[4] Ibid, hal.151
[5]
Ibid, hal. 20
[6] QS. al-Baqarah [2] : 23, an-Nisa` [4]
: 82, Yunus [10] : 38, Hud [11] : 13-14, Al-Isra` [17] : 88, At-Thur [52] :
33-34
[7] The Concept of Knowledge in Islam and its Implication for Education in a Developing Country, terj. Munir, Konsep Pengetahuan dalam Islam, Bandung: Pustaka, 1997, hlm. 1-4. dikutip dari Dr. Nashruddin Syarief, dalam Makalah yang berjudul : Konsep Islam Agama Wahyu.
[8] Al-Haqqah [69] : 43-47 dan ayat yang
serupa : Asy-Syu'ara [26] 192-195
%20(3).jpeg)