Hadiah Untuk Para Pengajar Madrasah

 



Oleh : 

Pengajar Madrasah at-Taqwa

           

Lelah, letih dan kesal mungkin itu adalah sebuah keniscayaan bagi para pengajar di Madrasah. Tidak menutup kemungkinan, pasti ada saja anak-anak yang nakal dan selalu membangkang. Tidak sopan, suka melawan dan memotong pembicaraan Ketika hendak belajar. Bahkan lari-lari dan main-main Ketika belajar.

            Ini semua tentunya adalah ujian untuk para pengajar. Dibalik semua ini, percayalah, banyak sekali keutamaan dan hikmah yang akan didapatkan oleh para pengajar Madrasah. Diantaranya ialah,

 

1.        Mendapat Amal Jariah

Para pengajar Madrasah sudah pasti mendapat amal jariah. Jariah itu diambil dari Bahasa Arab yang artinya mengalir. Maknanya, berarti jika kita mengajarkan suatu ilmu, dan orang yang diajarkannya itu selalu mengamalkannya, maka pahala akan terus mengalir kepada pengajarnya.

            عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ  

 

Dari Abu Hurairah, Bahwasannya Rasulullah saw. bersabda : “Jika seseorang diantara kalian meninggal, maka terputus amalannya, kecuali tiga perkara : Shadaqah Jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh”.[1]

2.      Melaksanakan Perintah Allah swt. dalam al-Qur’an


أُدْعُ إِلِى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah manusia ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” [2]

 

 

 Menjalankan Sunnah dan Perintah Nabi saw.

 

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِى مُعَنِّتًا وَلاَ مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِى مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

 

"Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah".[3]

 

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا

Sungguh aku telah diutus (oleh Allah SWT) sebagai seorang pengajar.” [4]

 

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat[5]

 

4.      Menjadi Manusia yang terbaik

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”[6]

5.      Mendapat Pahala yang serupa

 

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

 

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang mengajak orang lain kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sepertipahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Sebaliknya, siapa saja yang mengajak orang lain pada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi dosa mereka.[7]

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ 

Barangsiapa yang menunjuki suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang mengerjakannya.”[8]

 

6.       Layaknya Jihad

      Abu Hurairah berkata: “saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda: orang yang datang ke masjidku ini tidak lain kecuali karena kebaikan yang dipelajarinya atau diajarkannya, maka ia sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah. Siapa yang datang bukan karena itu, maka sama dengan orang yang sedang wisata melihat kesenangan lainnya.

 

7.      Dijauhkan dari Siksa & Laknat Allah swt 

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِۙ اُولٰۤىِٕكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَۙ

 

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat.”[9]

 

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ , أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

 

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ibrahim ia berkata; Aku mendengar Anas bin Malik berkata; Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa ditanya tetang sutau ilmu lalu menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk dari neraka."[10]

8.      Menjadi Umat yang terbaik

 

Orang yang mengajar akan menjadi umat yang terbaik, karena orang yang mengajar, secara tidak langsung telah melakukan amr ma’ruf nahy munkar.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ 

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar,..”[11]

 

9.      Melatih Kesabaran

إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا، حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ

 

“Apabila Nabi saw berbicara, diulangnya tiga kali hingga dapat dipahami.”[12]

Hadits ini memberi pelajaran, bahwa mengajar itu harus senantiasa bersabar. Jangan terlalu fokus pada hasil, sehingga tidak menikmati proses. Rasulullah pun berdakwah bertahun-tahun , mengapa kita baru sebentar saja mengeluh?  Kualitas dan Kuantitas pun itu nomor dua, yang pertama adalah istiqomah.


Wal-Lahu a'Lam



[1] Shahih Muslim Bab ma yalhaqu al-Insan min ats-Tsaub ba’d, Hal 73, No. 4310

[2] Q.S an-Nahl [16]: 125

[3] Shahih Muslim, Hal.187. No. 3763.

[4] Sunan Ibnu Majah Bab Fadli al-Ulama wa al-Hatsu ‘ala thalabil ‘Ilm, Hal. 83. No. 229

[5] Shahih al-Bukhori, Hal. 170. No. 3461

[6] Shahih al-Bukhori Bab Khoirukum man ta’allam al-Qur’an wa allamahu, Hal. 192

[7] Shahih Muslim Bab Man sanna sanata hasanatan aw sayyiatan, Hal. 61. No. 6975

[8] Shahih Muslim, Hal. 41. No. 5007

[9] Q.S al-Baqarah [2] : 159

[10] Sunan Ibnu Majah, Hal. 177 No. 264

[11] Q.S ali-Imran [3] : 110

[12] Shahih al-Bukhari Bab Man a’ada al-Hadits tsalatan hatta liyuphima ‘anh, Hal. 30. No. 95