Belakangan ini, pemberitaan Trans7 tentang pesantren menuai kontroversi luas. Tayangan tersebut dianggap menyudutkan pesantren, menimbulkan kemarahan santri, dan menyulut perdebatan di ruang publik.
Bagi
saya, ada beberapa alasan mengapa tayangan tersebut tuai kontroversi: (1) Narasinya kurang pas, (2) Potongan video yang
ditampilkan asal comot tanpa tau sumber dan tanpa tau pesantren mana yang
mereka tayangkan, dan (3) Terlalu personal, sampai bilang sarung dan mobil
mewah yang dipakai kiyainya adalah hasil dari uang pemberian santri, dan merek
sarungnya adalah sarung mahal yang jutaan. Aneh, mereka tau dari mana? Siapa
tau kan sarungnya harga yang biasa saja?! Siapa tahu mobil yang dipakai adalah
mobil pondok?!
Di
sisi lain, beberapa potongan video pesantren yang ditayangkan memang terlihat
“beradab dan hormat” yang berlebihan. Ingat ya, BEBERAPA video (entah video
yang ditampilkan Trans7 atau dari postingan yang berseliweran di media sosial).
Catatan Kritis
- Dalam Islam, penghormatan harus bersifat timbal balik. Santri menghormati kiai, kiai juga wajib menghormati santri. Penghormatan itu bukan berarti merendahkan salah satu pihak, melainkan memanusiakan manusia.
- Tidak selayaknya membagikan makanan sampai dilempar-lempar, santri harus jongkok dari kejauhan, diperlakukan seperti bawahan tanpa penghargaan, dipaksa tunduk tanpa alasan yang jelas, dan diperlakukan dengan cara yang merendahkan martabatnya sebagai manusia dan penuntut ilmu.
- Apa pun itu, semua harus ditempatkan pada tempatnya. Ini adalah definisi adil dalam perspektif Islam. Kalau kata Al-Attas, justice/‘adl adalah “the harmonious condition of things being in their right or proper places,” di mana segala sesuatu berada pada tempatnya. Artinya, keadilan bukan sekadar soal membagi sama rata, tapi soal menempatkan sesuatu secara proporsional dan tepat. Dalam konteks ini, kiai harus dihormati karena ilmunya, tapi bukan disembah seperti Tuhan. Begitu pula santri harus dihargai sebagai penuntut ilmu, bukan diperlakukan seperti bawahan. Ketika masing-masing pihak tahu posisi dan tanggung jawabnya, maka hubungan antara kiai dan santri akan menjadi sehat, saling menghormati, dan jauh dari penyalahgunaan kekuasaan.
- Allah pun dalam Al-Qur’an berfirman bahwa yang membedakan manusia dari manusia lainnya adalah hanya ketakwaan, bukan jabatan, bukan kekayaan, dan sebagainya.
- Santri harus kritis membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, mana yang haq dan batil. Ketika santri nurut-nurut saja dengan embel-embel hormat atau beradab kepada kiai tanpa dikritisi, ya jangan kaget kalau ujung-ujungnya muncul banyak penyimpangan: mulai dari pencabulan, kekerasan, sampai manipulasi ajaran agama. Kalau ini dibiarkan, maka adab yang seharusnya jadi kemuliaan justru berubah jadi alat penindasan.
Oleh
karenanya, bagi saya dua pihak perlu berbenah. Untuk media, termasuk Trans7,
harus lebih cermat dalam membangun narasi. Jangan melakukan framing yang
merugikan citra pesantren dan menyamaratakan semua lembaga. Saya pernah mondok,
dan saya tau tidak semua pesantren seperti yang mereka gambarkan. Pesantren
adalah ruh pendidikan Islam, pilar penting dalam membangun generasi masa depan
bangsa.
Di
sisi lain, pesantren juga harus berani melakukan introspeksi. Kalau kalian
marah ketika pesantren kalian merasa dihina, ya gapapa, itu bagus. Tapi pas di
rumah kalian hanya jadi beban orang tua, ngga taat pada mereka, atau bahkan
salat pun ngga serajin pas di pesantren, yaa kalian harus banyak MUHASABAH,
guys.. BERBENAHLAH!!!
Kalau
kalian marah saat pesantren kalian merasa dihina, ya gapapa, bagus juga. Tapi
pinter-pinterlah bersikap. Trans7 sudah meminta maaf, tetapi reaksi dari
sebagian kalangan santri tetap muncul dalam bentuk aksi protes. Uniknya,
demonstrasi dilakukan di depan Transmart bukan di kantor Trans7, padahal yang
diprotes adalah tayangan Trans7. Ini menunjukkan kemarahan yang besar, tapi
juga mengingatkan kita bahwa emosi tanpa arah yang jelas sering kali justru
melemahkan pesan yang ingin disampaikan
Pesan terakhir, termasuk bagi saya sebagai seorang santri; Santri harus mampu bertumbuh dan beradaptasi seiring dengan perubahan zaman. Menguasai kitab kuning sangat penting, tapi tidak cukup. Santri perlu memperluas wawasan, memahami realitas sosial, dan mampu mengkritisi persoalan-persoalan kontemporer. Dengan cara itu, pesantren akan tetap relevan dan menjadi kekuatan besar bagi masa depan bangsa.
Penutup
Pesantren
bukan lembaga suci yang tak boleh dikritik, tapi juga bukan tempat yang pantas
dipukul rata oleh media. Dua-duanya harus saling berbenah. Media wajib
berimbang, pesantren wajib terbuka terhadap kritik. Dan santri, kitalah yang
akan menjadi wajah masa depan pesantren itu sendiri.
Wal-Lahu A'lam
