Umat Muslim Tidak mengucapkan 'Selamat Natal'

 




Muhamad Redho al-Faritzi

Salah satu fenomena yang masih banyak muslim keliru menyikapinya adalah Toleransi terhadap agama Kristen yang merayakan Perayaan Natal. Banyak Muslim yang menghadiri acara perayaan tersebut dengan embel-embel "Toleransi". Padahal, prinsip Toleransi dalam Islam adalah lakum diinukum waliyadin, bagimu agamamu bagiku agamaku. 

Ustadz Adi hidayat, beliau memberikan konsep toleransi antar umat beragama dalam video ceramah di YouTube-nya, “Toleransi dalam Agama islam itu indah, biarkan umat lain beribadah sesuai kepercayaannya jangan diganggu, tugas kita hanya berdakwah dan mendoakan mereka karena dakwah itu dengan kelembutan hati bisa menghadirkan petunjuk Allah pada diri-diri mereka tapi juga kita tidak boleh memaksakannya. Pun juga janganlah menjadikan semua aktifitas menjadikan kita ikut-ikutan didalamnya seperti kita juga jangan memaksakan mereka untuk ikut-ikutan akan tradisi dari agama kita".

Artinya tidak perlu seorang muslim ikut serta mengucapkan atau bahkan mengikutinya. Apalagi ini adalah Natal, yang oleh umat kristen dianggap lahirnya anak tuhan, yaitu Isa bin Maryam. Jika seseorang mengucapkan 'Selamat Natal' secara tidak disadari dan secara tidak langsung juga ia telah mengucapkan 'Selamat Allah mempunyai anak'. Padahal dalam al-Qur'an Allah sangat murka terhadap orang yang menyatakan atau mengucapkan Allah telah mempunyai Anak.

Ada beberapa dalil yang mengungkapkan kemurkaan Allah terhadap orang yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak. Diantaranya :

            Pertama, Allah murka dan hampir bumi belah, langit runtuh & gunung hancur karena ucapan 'Selamat Natal' (selamat Allah mempunyai Anak).

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا٨٨ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا٨٩ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا٩٠ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا٩١ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا٩٢ إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا٩٣

Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit runtuh karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung hancur, karena mereka menyatakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Padahal tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba (QS. Maryam [19] : 88-93).

            Kedua, Allah murka sampai hampir langit pecah, karena ucapan 'Selamat Natal' (selamat Allah mempunyai Anak). Dan beruntungnya para malaikat tetap bertasbih kepada Allah.

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ  وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ  أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ٥

"Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. As-Syura [42] : 5).

            Ketiga, Mengucapkan ucapan seperti itu adalah suatu penghinaan kepada Allah swt.

قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

"Allah menyatakan, Anak Adam telah mendustakan-Ku padahal tidak layak ia berbuat demikian. Anak Adam juga telah menghinaku, padahal tidak layak ia berbuat demikian. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah keyakinannya bahwasanya Aku tidak mampu menghidupkannya kembali (sesudah matinya) sebagaimana semula. Dan penghinaannya kepada-Ku adalah pernyataannya bahwa Aku punya anak. Padahal Mahasuci Aku. Aku tidak membutuhkan istri dan anak." (Shahih al-Bukhari bab wa qalu-ttakhadzal-‘Llahu waladan no. 4482).

            Dalam sanad lain, diriwayatkan bahwa Allah swt menyatakan:

وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُؤًا أَحَدٌ

Sementara penghinaannya kepada-Ku adalah pernyataannya bahwa Allah punya anak. Padahal Akulah as-Shamad (tempat bergantungnya semua makhluk, bukan Allah swt yang bergantung pada anak dan istri). Aku tidak melahirkan/mempunyai anak, juga tidak dilahirkan. Tidak ada satu pun yang serupa dengan-Ku (Shahih al-Bukhari bab qauluhu Allahus-Shamad no. 4975).

            Sudah seharusnya umat Islam berpegang teguh pada prinsip toleransi agamanya. Yaitu menghargai dan menghormati tanpa harus mengikuti. Karena berdasarkan dalil diatas, mengucapkan saja sudah banyak ancamannya, apalagi ikut serta merayakannya. Selain itu, Toleransi dalam Islam juga harus melihat tiga aspek kerangka dasar ajaran Islam; (1) Aqidah, (2) Syariah, dan (3) Akhlak. 

Allah berfirman :

وَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقُلْ لِّيْ عَمَلِيْ وَلَكُمْ عَمَلُكُمْۚ اَنْتُمْ بَرِيْۤـُٔوْنَ مِمَّآ اَعْمَلُ وَاَنَا۠ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ

 

 “Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, "Bagiku pekerjaanku dan bagi kalian pekerjaan kalian. Kalian berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan." (QS. Yunus [10] : 41)

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku’.” (QS. Al-Kafirun [109] : 6)

            Apa salahnya umat islam untuk diam saja, tidak perlu ikut campur, mengucapkan selamat apalagi ikut serta dalam acaranya dengan embel-embel "Toleransi".  Tidak ada untung dan rugi bagi umat islam atau umat kristen itu sendiri ketika  ikut serta mengucapkan atau merayakan hari raya mereka.

Hanya mengucapkan saja Allah sudah murka, apalagi ikut merayakannya!