Keutamaan Shalat Malam

 


Muhamad Redho Al Faritzi


            Kita sebagai Umat muslim tidak boleh mengabaikan amalan-amalan sunnah. Jangan menganggap amalan sunnah adalah amalan yang sepele, karena diketahui sunnah adalah jika dikerjakan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak akan disiksa. Justru amalan sunnah lah yang menjadi barometer seberapa dekatnya kita dengan Allah Swt. Karena itu juga kunci masuk surga banya, salah satunya Rahmat dan Ridho-Nya. Bagaimana mendapatkan Rahmat dan Ridho-Nya? Ya dengan memperbanyak amalan sunnah agar kita lebih dekat. Jika sudah dekat, Allah Swt. pun tidak segan-segan untuk memberi apa yang dimintanya.

Allah Swt. sendiri mengatakan dalam Hadits Qudsi :

ولا يزال عبدي يتقرب ٳلي بالنوافل حتى أحبه

‘’Dan terus menerus hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah sampai aku mencintainya.’’[1]

Lalu apa saja amalan sunnah itu?

Amalan sunnah jika dihitung, tidak akan terhitung, karena saking banyaknya. Maka kita fokuskan pembahasan ini pada amalan sunnah yang sangat-sangat istimewa dan banyak keutamaan dan kemuliaan didalamnya, yaitu Shalat malam.

Shalat malam adalah salah satu dari beberapa amalan sunnah. Namun banyak pengkhususan bagi amalan sunnah ini. Ada beberapa point yang harus kita ketahui, bahwa mulia, utama, dan pentingnya Shalat malam, yaitu :

Pertama, Nabi Saw. merutikannya, melamakannya dan menikmatinya, sampai-sampai Nabi pecah-pecah telapak kakinya karena saking nikmatnya dekat dengan Allah Swt. Dijelaskan dalam hadits :

وَعَن عائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْها ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتى تَتَفطَّر قَدَمَاه ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رسُول اللَّهِ وَقد غُفِرَ لَكَ ما تَقَدَّم مِن ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ : « أَفَلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا » . متفقٌ عليه . وعَنِ المغيرةِ بنِ شعبةَ نحوهُ ، متفقٌ عليه .

1157. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Nabi shalallahu alaihi wasalam itu berdiri untuk shalat malam, sehingga pecah-pecah kedua tapak kakinya. Saya berkata kepadanya: "Mengapa Tuan mengerjakan sedemikian ini, ya Rasulullah, padahal sudah diampunkan untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang dahulu dan yang kemudian?" Beliau shalallahu alaihi wasalam lalu bersabda: "Tidakkah saya ini seorang hamba yang banyak bersyukur." (Muttafaq 'alaih) Diriwayatkan dari al-Mughirah sedemikian itu pula. [2]

Kedua, Banyak ayat al-Qur’an yang menyinggungnya. Diantaranya :

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَة لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاما مَّحۡمُودا

Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.[3]

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُون

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.[4]

كَانُواْ قَلِيلا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ

mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;[5]

Ketiga, Saking pentingnya Shalat malam, bagi yang meninggalkannya diancam neraka.

عن سالم عن أبيه قال كان الرجل في حياة النبي إذا رأى رؤيا قصها على رسول الله ﷺ فتمنيت أن أرى رؤيا فأقصها على رسول الله ﷺ وكنت غلاما شابا وكنت أنام في المسجد على عهد رسول الله ﷺ فرأيت في النوم كأن ملكين أخذاني فذهبا بي إلى النار فإذا هي مطوية كطي البئر وإذا لها قرنان وإذا فيها أناس قد عرفتهم فجعلت أقول أعوذ بالله من النار قال فَلَقِيَنَا مَلَكٌ آخَرُ فَقَالَ لِي لَمْ تُرَعْ

Dari Salim (putra Ibnu Umar), dari pembicaraan (Ibnu Umar), ia berkata: Pada zaman Nabi melihat ada orang yang bermimpi, ia akan menceritakannya kepada Rasulullah saw. Aku pun jadi sangat berharap bisa bermimpi dan kemudian menceritakannya kepada Rasulullah saw. Pada zaman itu aku adalah remaja yang biasa tidur di masjid. Pada suatu malam tampak aku bermimpi seolah-olah dua malaikat menarikku dan membawaku ke neraka. Ternyata neraka itu berdinding seperti dinding sumur dan memiliki dua tiang. Ternyata di sana banyak orang-orang yang saya kenal. Saya pun berdo'a “Aku berlindung kepada Allah dari neraka.” Kemudian seorang malaikat yang lain menemuiku dan berkata: "Kamu tidak perlu takut."

 

فقصصتها على حفصة فقصتها حفصة على رسول الله ﷺ فقال نعم الرجل عبد الله لو كان يصلي من الليل فكان بعد لا ينام من الليل إلا قليلا

Aku kemudian menceritakannya kepada Hafshah, dan Hafshah pun kemudian menjelaskannya kepada Rasulullah saw. Rasulullah bersabda: "Sebaik-dijelaskan lelaki itu adalah 'Abdullah, seandainya saja ia shalat malam." Salim berkata: Maka 'Abdullah sejak saat itu tidak tidur, kecuali sebentar.[6]

                                          

Hadits diatas menjelaskan bahwa pentingnya Shalat malam. Maka menurut Para Ulama shalat malam adalah Sunnah Muakkadah. Sunnah yang ditekankan, karena Nabi merutinkannya.

Keempat, Rasulullah Saw. Pernah memarahi Ali dan Fathimah karena meninggalkan Shalat malam.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ لَيْلَةً فَقَالَ أَلَا تُصَلِّيَانِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا فَانْصَرَفَ حِينَ قُلْنَا ذَلِكَ وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ وَهُوَ يَقُولُ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Dari ‘Ali ibn Abi Thalib, bahwasanya Rasulullah saw mendatanginya dan Fathimah binti Nabi malam-malam, sambil menegur: “Kalian berdua tidak shalat malam!?” Aku (terbangun dan) menjawab: “Wahai Rasulullah, ruh kami ada di tangan Allah. Jika Dia berkehendak membangunkan kami, pasti Dia akan membangunkan kami.” Beliau langsung berpaling tanpa menjawab sedikit pun. Sambil memukul pahanya terdengar beliau membacakan ayat: “Manusia memang banyak sekali membantah [QS. al-Kahfi [18] : 54].”[7]

 

Dalam sanad lain disebutkan bahwa Nabi saw sampai dua kali membangunkan ‘Ali dan Fathimah ra tersebut. Tetapi ketika ‘Ali ra malah berdalih, pada saat itulah Nabi saw memarahinya:

 

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعَلَى فَاطِمَةَ مِنَ اللَّيْلِ، فَأَيْقَظَنَا لِلصَّلاةِ، قَالَ: ثُمَّ رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ فَصَلَّى هَوِيًّا مِنَ اللَّيْلِ، قَالَ: فَلَمْ يَسْمَعْ لَنَا حِسًّا، قَالَ: فَرَجَعَ إِلَيْنَا، فَأَيْقَظَنَا وَقَالَ: قُومَا فَصَلِّيَا. قَالَ: فَجَلَسْتُ وَأَنَا أَعْرُكُ عَيْنِي وَأَقُولُ: إِنَّا وَاللهِ مَا نُصَلِّي إِلا مَا كُتِبَ لَنَا، إِنَّمَا أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللهِ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا. قَالَ: فَوَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ يَقُولُ، وَيَضْرِبُ بِيَدِهِ عَلَى فَخِذِهِ: مَا نُصَلِّي إِلا مَا كُتِبَ لَنَا، مَا نُصَلِّي إِلا مَا كُتِبَ لَنَا {وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Rasulullah saw masuk rumahku dan Fathimah malam-malam lalu membangunkan kami untuk shalat. Beliau lalu kembali lagi ke rumahnya dan shalat malam beberapa saat. Ketika beliau tidak mendengar gerak-gerak kami, beliau kembali lagi ke rumah kami dan membangunkan kami. Kata beliau: “Bangunlah kalian dan shalatlah!” Kata ‘Ali: “Aku pun duduk. Sambil mengggosok mata aku berkata: Sesungguhnya kami itu, demi Allah, tidak shalat melainkan sesuai yang ditetapkan Allah. Ruh kami ada pada genggaman Allah. Jika Dia berkehendak membangunkan kami, ia pasti akan membangunkan kami.” Kata ‘Ali, Rasulullah saw langsung berbalik. Sambil menepukkan tangannya pada pahanya beliau bersabda: “Kami tidak shalat melainkan sesuai yang ditetapkan Allah! Kami tidak shalat melainkan sesuai yang ditetapkan Allah! Dasar manusia banyak sekali membantahnya!” [8]

 

Kelima, Orang yang Shalat malam akan masuk Surga dengan selamat.

 

وَعن عبدِ اللَّهِ بنِ سَلاَمٍ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا باللَّيْل وَالنَّاسُ نِيامٌ ، تَدخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلامٍ » . رواهُ الترمذيُّ وقالَ : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .

1163. Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Hai sekalian manusia, ratakanlah -sebarkanlah- salam, berikanlah makanan, shalatlah diwaktu malam dimana para manusia sedang tidur, maka engkau semua akan dapat memasuki syurga dengan selamat." [9]

Keenam, Shalat malam adalah shalat yang utama setelah shalat fardhu.

 

وَعنْ أَبي هُريرةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ قالَ : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «أَفْضَلُ الصيَّامِ بعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلاةِ بعدَ الفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْل» رواه مُسلِمٌ .

1164. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Seutama-utama puasa bulan Ramadhan ialah bulan Allah yang dimuliakan -yakni berpuasa dalam bulan Muharram-, sedang seutama-utamanya shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat di waktu malam." [10]

Ketujuh, Shalat malam juga adalah kebiasaannya Nabi Dawud As.

وَعَنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عَمْرو بنِ العَاصِ ، رَضيَ اللَّه عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « أَحَبُّ الصَّلاةِ إلى اللَّهِ صَلاةُ دَاوُدَ ، وَأَحبُّ الصيامِ إلى اللَّهِ صِيامُ دَاوُدَ ، كانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْل وَيَقُومُ ثُلُثَهُ ويَنَامُ سُدُسَهُ وَيصومُ يَوماً وَيُفطِرُ يَوماً » متفقٌ عليه .

 

1174. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda padanya: "Shalat yang paling dicintai oleh Allah ialah shalatnya -Nabi- Dawud dan puasa yang paling dicintai oleh Allah ialah puasanya -Nabi- Dawud. Ia tidur separuh malam, bangun shalat yang sepertiganya dan tidur yang seperenamnya. Ia berpuasa sehari dan berbuka -yakni tidak berpuasa- sehari." [11]

Kedelapan, Rasulullah Saw. Tidur di awal malam demi bangun disepertiga malam untuk shalat malam.

 

وعنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ يَنَامُ أَوَّل اللَّيْل ، ويقومُ آخِرهُ فَيُصلي . متفقٌ عليه.

1170. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam itu tidur di permulaan malam dan bangun pada akhir malam lalu bershalat." [12]

Kesembilan, Waktu malam ialah waktu yang Mustajab. Allah akan mengabulkan Doa, memberi permohonan, kepada hambanya yang bangun/Shalat diwaktu malam.

وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّه عنْهُ قَالَ : سمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ : « إِنَّ في اللَّيْلِ لَسَاعةً ، لا يُوافقُهَا رَجـُلٌ مُسلِمٌ يسأَلُ اللَّه تعالى خيراً من أمرِ الدُّنيا وَالآخِرِةَ إِلاَّ أَعْطاهُ إِيَّاهُ ، وَذلكَ كلَّ لَيْلَةٍ » رواه مسلم .

1175. Dari Jabir radhiyallahu anhu, katanya: "Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Sesungguhnya di waktu malam itu ada suatu saat yang tidak didapati oleh seorang Muslim yang di waktu itu memohonkan suatu kenaikan kepada Allah, baik dari urusan ke duniaan atau akhirat, melainkan Allah akan memberikan -mengabulkan- permohonannya tadi. Yang sedemikian ini ada di setiap malam." [13]

Kesepuluh, Saking penting dan mulianya Shalat malam, Nabi jika terlambat bangun, sakit atau ada udzur Syari lainnya, beliau akan menggantinnya dengan 12 rakaat disiang harinya.

وعَنْها ، رضِي اللَّه عنْهَا ، قالَتْ : كان رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا فاتتْهُ الصَّلاةُ من اللَّيل مِنْ وجعٍ أَوْ غيرِهِ ، صَلَّى مِنَ النَّهارِ ثِنَتي عشَرة ركْعَة . رواه مسلِم .

1178. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam itu apabila terlambat melakukan shalat malam karena sakit atau lain-lain, maka beliau shalallahu alaihi wasalam shalat dua belas rakaat di waktu siang harinya." [14]

Kesebelas, Allah merahmati orang yang Shalat malam.

وعَنْ أَبي هُريرة رَضِيَ اللَّه عنْهُ ، قال : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « رحِمَ اللَّه رَجُلا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، فصلىَّ وأيْقَظَ امرأَتهُ ، فإنْ أَبَتْ نَضحَ في وجْهِهَا الماءَ ، رَحِمَ اللَّهُ امَرَأَةً قَامت مِن اللَّيْلِ فَصلَّتْ ، وأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فإِن أَبي نَضَحَتْ في وجْهِهِ الماءَ » رواهُ أبو داود. بإِسنادِ صحيحٍ .

 

1180. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam dan membangunkan istrinya, lalu apabila istrinya enggan, lelakinya itu memercik-mercikkan air di mukanya. Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya dan apabila suaminya itu enggan, lalu memercik-mercikkan air di mukanya." [15]

Keduabelas, Saking pentingnya shalat malam, Rasul meminimalkan shalat malam dengan satu rakaat.

وَعَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمَا ، أَن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : «صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذا خِفْتَ الصُّبْح فَأَوْتِرْ بِواحِدَةِ » متفقٌ عليه .

1165. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Shalat sunnah di waktu malam itu dua rakaat dua rakaat, maka jikalau engkau takut masuknya shalat Subuh, maka berwitirlah dengan serakaat." [16]

Itulah beberapa point yang harus kita ketahui, bahwa Shalat malam penuh dengan kemuliaan dan keutamaannya. Jika kita lihat seluruh Hadits mungkin akan lebih banyak keutamaan dan kemuliaan shalat malam. Point diatas tidaklah seberapa, masih hanya sedikit.

Maka shalat malamlah salah satu amalan sunnah yang istimewa, banyak keutamaan, dan kemuliaannya. Jangan pernah tinggalkan Shalat malam, karena shalat malam adalah amalan sunnah yang dapat mendekatkan diri kita terhadap Allah Saw. Jika sudah dekat dengan Allah Saw. Apa yang harus diragukan dan ditakutkan?

Wallahu a’lam



[1]

[2] Riyadush-shalihin, Bab fadhli qiyam al-Lail, Juz 1, Hal. 133

[3] Q.s al-Isra [17] : 79

[4] Q.s as-Sajdah [32] : 16

[5]Q.s adz-Dzariyat [51] : 17

 

[6] Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab fadlli qiyamil-lail no. 1121-1122

[7] Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab tahridlin-Nabi ‘ala qiyamil-lail no. 1127

[8] Musnad Ahmad bab musnad ‘Ali ibn Abi Thalib no. 705

[9] Riyadush-shalihin, Bab fadhli qiyam al-Lail, Juz 1, Hal. 133

[10] Riyadush-shalihin, Bab fadhli qiyam al-Lail, Juz 1, Hal. 133

[11] Riyadush-shalihin, Bab Istihbab Qiyam Ramadhan : at-Tarwih, Juz 1, Hal. 134

[12] Riyadush-shalihin, Bab Istihbab Qiyam Ramadhan : at-Tarwih, Juz 1, Hal. 134

[13] Riyadush-shalihin, Bab Istihbab Qiyam Ramadhan : at-Tarwih, Juz 1, Hal. 134

[14] Riyadush-shalihin, Bab Istihbab Qiyam Ramadhan : at-Tarwih, Juz 1, Hal. 134

[15] Riyadush-shalihin, Bab Istihbab Qiyam Ramadhan : at-Tarwih, Juz 1, Hal. 134

[16] Riyadush-shalihin, Bab fadhli qiyam al-Lail, Juz 1, Hal. 133

Wallahu a’lam