Meneladani Hebat Para Ulama Salaf

 


Muhamad Redho al-Faritzi


Ulama adalah sederetan orang mulia yang menjadi teladan bagi umatnya. Tidak hanya itu, Ulama juga adalah pewaris para Nabi Saw., merekalah yang menuntun umatnya menuju ridho-Nya, rahmat-Nya juga surga-Nya. Perlu diingat juga, Ulama bukanlah sekedar laki-laki tua yang berjenggot, bersorban serta berbaju gamis. Tetapi Ulama mempunyai karakteristik utama tersendiri, yaitu takut kepada Allah Swt. (Q.S Al-Fathir, [35] : 28).

Meneladani mereka bukanlah hal yang mudah. Banyak usaha yang harus diperjuangkan, lelah yang dirasakan, juga melewati rintangan. Banyak asumsi, bahwa menjadi seperti  mereka yang cerdas dan berprestasi itu harus mempunyai IQ tinggi. Padahal tidak, cerdas dan berprestasi itu bukan semata-mata bawaan lahir dan harus mempunyai IQ tinggi. Asumsi seperti ini tidak bisa diaminkan seluruhnya, karena Peranan IQ itu hanya 1% dalam menunjang keberhasilan seseorang, adapun yang 99% itu adalah kemauan dan kerja keras. Juga tekad, ketekunan, do'a, dan kegigihan mereka dalam berusaha.

Imam Ibnul Jauzi

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Bin Abil Hasan Ali Bin Muhammad Bin Ubaidillah al-Quraisy. Ia lahir di darbu habib (Baghdad) pada tahun 510 H. Ada yang berpendapat bahwa ia lahir pada tahun 507 dan 509 H, namun yang pertamalah yang disepakati.

Imam Ibnul Jauzi adalah seorang yatim. Ia ditinggal ayahnya ketika ia masih kecil yaitu pada umur tiga tahun. Ketika masih kecil, ia terbiasa memungut sisa-sisa roti kering, lalu duduk dipinggir sungai Isa Baghdad. Karena roti itu kering, tentunya ia memakannya dengan dibarengi air. Lalu ia berangkat mencari ilmu.

Imam Ibnul Jauzi dalam mencari ilmunya ia penuh dengan penderitaan dan kesulitan. Tentunya membuat Imam Ibnul Jauzi untuk harus tetap bersabar. Ia pernah berkata :”Sungguh, dalam perjalanan mencari ilmu, banyak sekali kesulitan yang aku hadapi. Namun, semua itu aku rasakan lebih manis daripada madu. Naluriku tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dalam menuntut ilmu itu, meskipun secara lahir orang melihatmya cukup menderita. Aku sudah cukup bersyukur dengan keadaaku. Dan benar, akhirnya jerih payah ini membuahkan pengetahuan luas. Aku dikenal sebagai orang yang banyak menghafal hadits Rasulullah Saw., riwayat keadaan beliau, para sahabat, dan tabi’in”.

Imam Ibnul Jauzi juga mengisahkan bahwa ia tdak pernah kenyang membaca buku. Jika ia melihat kitab yang belum ia baca, seolah-seolah ia melihat harta karun. Ia pernah membaca 20.000 jilid buku lebih, dan teus membaca hingga akhir hayatnya. Dengan kitab-kitab itu ia dapat mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka yang luar biasa, ketekunan ibadah mereka, dan ilmu mereka yang menakjubkan. Menurut ia semua itu jelas tidak mungkin diketahui oleh orang-orang yag malas membaca.

Iman an-Nawawi

Nama lengkap Iman an-Nawawi ialah Yahya Bin Syaraf Bin Murri Bin Hasan Bin Husain Bin Muhammad Bin Jum’ah Bin Hizam An-Nawawi. Ia dilahirkan di daerah Nawa, diwilayah Hauran, selatan Damaskus, pada bulan Muharram tahun 631 H. Wafat pada 24 Rajab 676 H pada usia 46.

Iman an-Nawawi dikenal sebagai pakar ilmu fiqh dan hadits. Beliau men-syarah kitab Shahih Muslim, yaitu Syarah Shahih muslim. Di bidang ilmu fiqh beliau menulis kitab yang monumental, yaitu Al-majmu’ (syarah kitab muhadzdzab), yang menjadi kitab induk dimadzhab Syafi’i. Selain itu,  beliau menulis juga beberapa kitab yang sampai sekarang masih menjadi rujukan di era millennial ini, seperti Riyadsuh Shalihin, Hadits Arba’in, At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul arifin, Al-adzkar, dan kitab lainnya.

Sejak kecil, Iman an-Nawawi hari harinya sibuk dengan menghafal Al-Qur’an. Karena itu beliau jarang bermain dengan teman sebayanya, beliau lebih suka mengahafal Al-Qur’an daripada bermain dengan teman sebayanya.

Sejak remaja, Iman an-Nawawi diajak oleh sang ayah ke damaskus untuk belajar kepada para ulama disana. Guru pertamanya adalah Syeikh Farkah di halaqah mufti syam. Pada tahun pertama menimba ilmu di Damaskus (649 H), Iman an-Nawawi berhasil menghafalkan kitab At-Tanbih, yang merupakan kitab fiqh madzhab Syafi’I karya Imam Ibnu Ishaq asy-Syaizari, hanya dalam waktu 4 setengah bulan. Pada tahun itu juga, ia menghafalkan seperempat awal kitab al-muhadzdzab yang merupakan karya asy-Syaizari juga.

Hari-harinya juga beliau habiskan dengan belajar, menulis, dan membaca. Dimalam harinya, beliau jarang sekali tidur normal seperti orang kebanyakan. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk beribadah dan belajar. Beliau tidur jika benar benar mengantuk. Setiap harinya beliau belajar 12 jenis pelajaran yang berbeda. Maka tak heran, beliau dulu menjadi sosok ulama yang terkenal, juga kitab-kitabnya yang sampai sekarang masih menjadi rujukan.

Dan Ulama lainnya, seperti Imam Syafi'I (767-820 M), yang selalu semangat belajar, walaupun dalam keadaan yang miskin. Sampai ia menulis pelajaran diatas tulang-tulang yang ia temukan dijalanan. Ahmad bin Hanbal (780-855 M), yang mengililingi dunia dua kali, demi mencari Ilmu. Hammam bin al-Haris, yang berdoa agar disedikitkan waktu tidurnya, agar bisa lebih lama beribadah kepada Allah. Said bin al-Musayyab (636-715 M), yang melakukan perjalanan jauh, hanya ingin mendapatkan satu hadits.Amir bin Abdul Qais (w.104 H), yang diajak oleh orang-orang malas untuk berkumpul. Namun amir menolaknya dan menyuruh agar matahari berhenti, agar ia bisa berkumpul bersamanya.

 

Wal-Lahu a'Lam