Oleh : Redho al-Faritzi
(Sekretaris Remaja Masjid At-Taqwa)
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.[1] Pertanian merupakan yang hal penting dalam kehidupan. Tidak ada kehidupan tanpa pertanian, karena pertanian adalah sumber kehidupan.
Pertanian bisa menghasilkan bahan pangan; seperti nasi, sayur, buah-buahan dan lainnya. Ini semua adalah makanan manusia yang merupakan kebutuhannya. Manusia mungkin tidak bisa hidup tanpa bahan pangan yang dihasilkan pertanian ini. Manusia bisa mati kelaparan, tanpa bahan pangan ini. Walaupun ada yang menyatakan bahwa tidak makan tidak apa-apa yang penting ada cairan yang masuk pada tubuh. Anggapan ini tidak seluruhnya bisa di-aminkan. Karena diluar sana masih banyak yang mati karena kelaparan.
Bahan pangan ini juga berpengaruh pada energi untuk badan kita. Kita tidak bisa bekerja tanpa bahan pangan ini. Karena bekerja juga harus memiliki energi atau tenaga. Bekerja juga tiada lain untuk mencari nafkah juga, yang merupakan ibadah untuk para laki-laki yang sudah menikah. Bekerja tanpa tenaga hanyalah hal yang mustahil. Jika ada, itupun akan tidak terlalu semangat, dan menghasilkan hasil yang tidak memuaskan.
Maka memang akan ada keterkaitannya pertanian ini dengan ibadah atau pahala manusia. Karena jika pertanian menggunakan kacamata islam maka akan banyak muncul keterkaitannya dengan bagaimana rosul menyikapi pertanian ini, dalil-dalil al-Qur'an dan hadits-hadits yang menyingkap bagaimana menyikapi pertanian ini.
Lalu,
bagaimana pertanian ini dalam perspektif islam?
Dalam perspektif islam, ada
banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang pertanian atau bercocok tanam
ini. Diantaranya :
Dari Jabir bin
Abdullah RA, dia bercerita bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah
seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman
itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai
sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi
sedekah baginya.[2]’’
Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya.[3]’’
Kedua hadits diatas menunjukan pertanian atau bercocok tanam itu bukan hanya bermanfaat didunia saja, namun diakhirat juga. Karena hasilnya bisa disedekahkan pada manusia lagi, hewan atau makhluk lainnya. Karena sedekah adalah salah satu kunci pahala, dan pahala adalah salah satu kunci surga.
Kita kembali pertanyakan pada tujuan hidup ini adalah apa. Karena dunia ini hanyalah sementara, dan kita pasti punya tujuan utama. Salah satunya berbuat baik seperti bersedekah. Karena bekal kita tiada lain adalah amal, bukan harta apalagi keluarga. Rasulullah bersabda :
يَتْبَعُ
الْمَيِّتَ ثلاثةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ
أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى
عَمَلُهُ
‘’Ada tiga perkara yang mengiringi keberangkatan mayat; maka yang dua perkara kembali, sedangkan yang satunya lagi menemaninya. Keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya mengiringinya; maka kembalilah keluarga dan hartanya, dan yang tertinggal (bersamanya) adalah amal perbuatnnya.’’
Pertanian
juga merupakan bagaimana sikap kita menjaga alam. Menjaga alam adalah hal yang wajib
bagi semua manusia, terutama kita sebagai muslim. Menjaga alam juga adalah
bentuk kasih sayang kita terhadap ciptaan-Nya. Mengenai Menjaga alam, Allah
Berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat
dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar
mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali
(ke jalan yang benar).[4]
قُلْ
سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ
ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ
Katakanlah (Muhammad), “ Bepergianlah
di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari
mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah). [5]
Kedua ayat diatas, menjelaskan bahwa Allah
menciptakan Alam semesta tiada lain untuk manusia itu sendiri. Manusia bisa
mengambil manfaat darinya, mengolahnya. Setelah memanfaatkan dan mengolahnya
manusia bisa menyedekahkannya sebagai bekal nanti diakhirat.
Namun manusia terkadang salah menyikapinya.
Manusia bersikap tamak, rakus terhadap alam-Nya. Mereka menghancurkannya untuk
membangun rumah, hotel, dan gedung-gedung tinggi lainnya. Tiada lain itu semua untuk
kepentingan mereka sendiri, untuk kekayaan mereka sendiri. Kekayaan yang
harusnya jadi jalan untuk memperbanyak bekal nanti diakhirat, malah kekayaan
menjadikan mereka lalai. Lupa terhadap Tuhan-Nya yang memberi kekayaan itu
sendiri. Kekayaan seperti ini membuat mereka semakin lupa apa tujuan hidup
mereka sebenarnya. Mereka semakin saja mencintai dunia. Padahal dunia hanyalah
tempat persiapan bekal untuk nanti diakhirat. Pada hakikatnya dunia itu bukan
tempat tinggal, melainkan tempat untuk ditinggalkan.
Allah Swt. Berfirman :
ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِب وَلَهۡو وَزِينَة وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُر فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰماۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَاب شَدِيدوَمَغۡفِرَة مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰن وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُور
‘’Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu
hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara
kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti)
ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan
dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.[6]
Manusia sendiri yang telah menghilangkan manfaat dari Alam. Mereka bersikap tamak dan rakus yang berdampakkan bencana alam itu sendiri. Manusia menganggap bahwa alam tidak bisa membalas kerakusan dan ketamakan mereka. Padahal alam bertindak dengan adanya bencana alamnya. Ini adalah sebuah balasan dari alam terhadap manusia yang dzalim, yang salah menggunakan alam-Nya. Ibaratnya mereka marah terhadap manusia yang rakus dan tamak itu. Allah Berfirman :
لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ
إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ
الْمُحْسِنِينَ
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا
بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ
لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ
الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. (56) Dialah yang meniupkan angina sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angina itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (57) Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan, dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (58)[7]
Maka
dari itu, kita harus kembalikan tujuan Allah mengapa menciptakan Alam. Tiada
lain untuk manusia itu sendiri. Mari kita manfaatkan pertanian ini sebagai
jalan untuk menyambung kehidupan. Dan kita hidup tiada lain untuk beribadah
kepada-Nya, dan beribadah tiada lain untuk amal kita sendiri, dan yang
memasukan kita ketempat yang dimimpikan yaitu Surga itu tiada lain amal kita
sendiri. Jadikanlah Akhirat sebagai tujuan, maka dunia akan menghampiri. Namun
jangan menjadikan dunia sebagai tujuan dengan menggunakan jalan akhirat, karena
ini adalah celaka besar bagi manusia.
Wallahu a’lam
