Hati-Hati Terjerumus Kekafiran Karena Nafsu Duniawi


Oleh : Muhamad Redho al-Faritzi
(Pengajar Madrasah at-Taqwa)

Manusia adalah salah satu makhluk yang tinggal didunia. Seluruhnya dituntut untuk meyakini bahwa dunia tidaklah abadi, dunia pastilah hancur, dunia pastilah ditinggalkan. Disisi lain mereka meyakini bahwa dunia adalah satu hal yang fana, pasti hancur dan pasti ditinggalkan. Namun disisi lain mereka masih saja terus mencintainya karena kenikmatan yang selalu mereka rasakan dengan hawa nafsu mereka. Sampai mereka lupa apa tujuan hidup mereka sebenarnya, dan apa hal abadi yang sebenarnya.

Mengenai Dunia, Allah Swt. Berfirman :

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِب وَلَهۡو وَزِينَة وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُر فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰماۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَاب شَدِيد وَمَغۡفِرَة مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُور

 

‘’Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.’’[1]

 

 Ayat diatas memberi tahu kita bahwa dunia adalah hal yang sementara, tak patut dicintai, dan jangan pernah dicintai. Dunia ini bukan tempat tinggal, melainkan tempat untuk ditinggalkan. Dunia hanyalah tempat persiapan bekal untuk nanti kita hidup di Keabadian, yaitu Akhirat. Maka kita  harus benar-benar menyiapkan bekal dengan memperbanyak beribadah kepada-Nya dan melakukan amal-amal kebaikan.

Dan kembali pada tujuan utama hidup kita didunia, yaitu Beribadah kepada-Nya. Allah Swt. Berfirman :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

‘’Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.’’[2]

 

Tentunya sebelum kita Beribadah dan beramal kita harus mempunyai pondasi utama, yaitu Ilmu. Maka dari itu kita harus memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin dengan Mencari Ilmu. Mengingat Para Ulama, mereka menghabiskan waktunya dengan Mencari Ilmu dan Beribadah. Sampai-sampai sebagian dari mereka ada yang menyedikitkan waktu tidurnya, Shaum setiap hari dan pergi meninggalkan kampungnya demi menemui Ulama untuk bertalaqqi dengan mereka. Juga tidak lupa, Para Ulama tidak hanya mencari Ilmu saja, Mereka juga mengamalkan Ilmu mereka. Karena mereka tahu bahwa Ilmu harus disebar luaskan, bukan hanya dinikmati oleh sendiri.

Para Ulama dalam menyikapi Ilmu itu dengan tiga cara; yaitu membaca, belajar dan menulis. Membaca dan belajar adalah cara Para ulama mencari Ilmu, dan Menulis adalah cara Para Ulama menyebarluaskan Ilmunya.

Maka dari itu, kita sebagai manusia harus bisa menyikapi Dunia dengan memanfaatkan waktunya dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat, Beribadah, mencari ilmu juga amal sholeh lainnya. Bukan dengan bermalas-malasan ditempat tidur, main game, menghamburkan uang dengan jajanan-jajanan yang dikatakan ­makanan modern, lalai dalam beribadah, nongkrong pinggir jalan, dan lainnya.

Indikator utama dari kelalaian terkadang adalah salah dalam menggunakan handphone. Jika kita salah salah menggunakannya, maka tidak akan jauh dari yang namanya game dan media sosial. Game adalah satu hal yang dapat menjauhkan kita dari Tuhannya, melalaikan dari segala hal, terutama yang paling bahaya adalah mengabaikan perintah orang tua.

Sedangkan media sosial, saya simpulkan dengan hadits Rosulullah Saw. Bahwa media sosial itu mempunyai tiga sifat, yaitu :

 

اِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُون

 

‘’Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaqnya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah tsartsarun (orang yang banyak bicara tidak bermanfaat), mutasyaddiqun (senang memperolok manusia), dan mutafaihiqun.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami sudah tahu apa itu tsartsarun dan mutasyaddiquna, tapi siapakah orang yang mutafaihiqun itu?” Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong.[3]

 

Tsartsarun adalah orang yang banyak bicara tidak bermanfaat. Seperti yang telah kita ketahui, dalam media sosial banyak yang memposting dan membuat semacam status-status yang tidak bermanfaat, bahkan masih banyak orang yang membuat berita-berita hoax dalam status-status atau postingan-postingan mereka.

 

Mutasyaddiqun adalah senang memperolok manusia. Seperti yang kita ketahui juga, media sosial tidak jauh dari saling memperolok atau menghina satu sama lain lewat postingan-postingan ataupun status-status mereka.

 

Mutafaihiqun adalah orang-orang yang sombong. Seperti yang kita ketahui juga , sombong juga selalu menggoda bagi pengguna media sosial. Memposting video atau foto dakwah agar dianggap sebagai manusia sholeh oleh orang-orang, pamer harta yang dimiliki, pamer dan bangga dengan followers yang banyak, pamer dengan ketampanan dan kemewahan, dan yang lebih parah pamer kecantikan bagi perempuan, bahkan berani mamamerkan sebagian anggota badannya yang seharusnya ditutupi.

 

Maka tugas kita adalah harus lebih dewasa dalam menyikapi media sosial sebaik mungkin. Kita manfaatkan media sosial sebagai media untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat, tidak lupa juga untuk berdo’a agar dijauhkan dari sifat sombong yang selalu menghantui dalam kehidupan media sosial.

 

Sindrom utama dari kecintaan pada dunia ini tiada lain adalah nafsu. Manusia terus mengikuti hawa nafsu mereka. Nafsu adalah suatu hal yang terus mendorong kepada kejahatan. Seperti perkataan Yusuf dalam Al-Qur’an :

 

‘’Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), Karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun juga Maha Penyayang.’’

            Maka dari itu kita harus terus melawan nafsu. Karena ini adalah sindrom utama dari segala kecintaan kita terhadap dunia, bahkan nafsu adalah sumber dari segala kejahatan. Bukan nafsu saja yang menjadi sumber kejahatan dan kecintaan pada dunia. Tetapi ada syahwat dan syubhat yang bisa menjadi salah satu sumber kejahatan dan kecintaan pada dunia.

 

Menghadapi syahwat dan syubhat ini, yaitu seperti yang dikatankan Ibnul Qayyim rahimahullah :

‘’Sesungguhnya sumber segala kejahatan adalah syubhat dan syahwat. Syubhat tidak dapat diredam kecuali dengan yakin, dan syahwat tidak dapat ditolak kecuali dengan sabar. Dengan perantaraan sabar dan yakin, engkau dapat mencapai tingkatan imam fid-din (pemimpin dalam urusan agama).’’

 

            Teruslah perbanyak amal, bukan memperbanyak harta apalagi anak/keturunan. Jangan pernah kita jadikan harta dan keturunan sebagai tujuan, karena sebagimana tadi disebutkan bahwa dunia hanya tempat persiapan bekal dan tempat yang akan ditinggalkan. Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa yang akan bersamai kita sampai mati itu adalah amal. Rasulullah Saw. Bersabda :

 

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثلاثةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

‘’Ada tiga perkara yang mengiringi keberangkatan mayat; maka yang dua perkara kembali, sedangkan yang satunya lagi menemaninya. Keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya mengiringinya; maka kembalilah keluarga dan hartanya, dan yang tertinggal (bersamanya) adalah amal perbuatnnya.’’[4]

 

Dengan hadits diatas, kita ketahui bahwa amal perbuatanlah yang akan membersamai kita sampai akhirat, bukan harta apalagi keluarga. Teruslah perbanyak amal, walaupun sedikit. Karena amal bukan dilihat dari banyaknya, tapi dilihat dari kedawamannya (terus menerus), terus dikerjakan walaupun sedikit. Rasulullah Saw. Bersabda :

 

مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

 

‘’Biarkanlah, Kerjakan apa yang kalian sanggupi. Demi Allah, Allah Swt. tidak bosan hingga kalian sendiri yang bosan, dan agama (amalan) yang paling dicintai-Nya adalah apa yang dikerjakan secara rutin (kontinu).’’[5]

 

            Kesenangan dunia terus melanda kita, melalaikan kita dari ibadah, lupa akhirat, sampai lupa Tuhan-Nya yang memberikan nikmat pada kita. Allah Swt. Berfirman :

 

زيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ

 

‘’Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.’’[6]

 

Allah Swt. jadikan pandangan manusia pada kesenangan dunia terasa indah. Dan tugas kita adalah memalingkan kesenangan dunia itu dengan banyak beribadah kepada-Nya serta mentaati-Nya dan Rosul-Nya. Jangan sampai kita seperti orang kafir, yang akhirnya Allah Swt. berikan mereka ancaman. Dengan dimasukan ke Neraka Jahannam dan dijadikan bahan bakar dineraka. Akibat dari orang kafir diberi ancaman seperti itu adalah karena mereka terus mengejar dunia dan menjadikan dunia adalah tujuan. Allah Swt. Berfirman :

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗاۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ وَقُودُ ٱلنَّارِ

 

‘’Sesungguhnya orang-orang yang kafir, bagi mereka tidak akan berguna sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah. Dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka.’’[7]

 

 

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغۡلَبُونَ وَتُحۡشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ

 

Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”[8]

 

            Ada sebuah hadis qudsi sangat penting untuk kita ketahui. Ini bisa kiata jadikan sebagai renungan bersama.

Suatu ketika datang malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dan berkata :

 

 يا محمد ، عش ما شئت فإنك ميت ، وأحبب من أحببت فإنك مفارقه ، واعمل ما شئت فإنك مجزي به

 

"Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapapun yang engkau suka karena sungguh kalian akan berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.’’

 

Dari hadis diatas, ada tiga pelajaran penting yang bisa kita jadikan renungan dan muhasabah diri kita, yaitu :

 

Pertama,  bahwa hidup didunia hanya sementara. Dan kita akan meninggalkannya.

Kedua, semua yang kita cintai pasti berakhir. Seperti harta, pasangan dan lainnya kita pasti pasti berpisah kecuali amalan kita.

Ketiga, kita boleh berbuat semau kita. Tapi ingat, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan-Nya.

 

            Jadikan akhirat sebagai tujuan, maka dunia pun akan dapat. Layaknya tujuan kita adalah Garut (akhirat), maka kita akan melewati rancaekek (dunia). Namun jika kamu ingin dunia dengan jalur akhirat maka ini menurut Imam Ghazali adalah celaka besar.

 

 

            Maka dari itu, mari kita sama-sama memperbaiki diri. Saling menasehati dalam kesabaran, ketaatan, dan kebenaran. Perbanyak beribadah, beristighfar dan berlindung dari segala hal yang dapat  memalaskan kita dari mengingat-Nya dan berdo’a agar istiqomah dalam beramal. Terus beramal meskipun sedikit, yang terpenting amal itu dikerjakan terus menerus. Tanamkan terus dalam diri, prinsip bahwa Dunia bukan tempat tinggal melainkan tempat untuk ditinggalkan. Dunia hanya sementara, dan tanyakan pada diri kita ‘Amal apa saja yang sudah kita lakukan untuk menghadapi akhirat nanti?’ dan ‘mengerjakan yang bermanfaat atau bermain-mainkah yang lebih banyak mengisi kekosongan waktu kita?’

 

Imam As-Syafi’i berkata :

Jadikanlah akhirat dihatimu, dunia ditangan mu, dan kematian dipelupuk matamu.[9]


[1] Q.S. al-Hadid [57] : 20

[2] Q.S. adz-Dzariyat [51] : 56

[3] Sunan at-Tirmidzi, kitab al-birr was-shilah bab ma’alil-akhlaq no. 2018. Mengutip dari Website attaubahinstitute.com.

[4] Shahih al-Bukhari Bab sakraatu al-maut No. 6514

[5] Shahih al-Bukhari Bab Uhibbu al-Ladzina ila al-llahi azza wa jala adwamuhu No. 43

[6] Q.S. ali 'Imran [3] : 14

[7] Q.S. ali 'Imran [3] : 10

[8] Q.S. ali 'Imran [3] : 12

[9] Bambang Irawan, Untaian Nasihat Imam asy-Syafi’i : Gerbang kebahagiaan, Kearifan, Inspirasi dan Muhasabah, (Solo : Tinta Medina, 2016)