Toleransi dalam Agama yang 'Kebablasan'

 



Oleh : Habi Haikal Zulfa 
(Bid. Sosial Remaja Masjid At-Taqwa)


Toleransi yang kebablasan ini, ternyata sudah ada sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperjuangkan agama Islam.

Suatu ketika, beberapa orang kafir Quraisy yaitu Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menawarkan toleransi kebablasan kepada beliau, mereka berkata:

  یا محمد ، هلم فلنعبد ما تعبد ، وتعبد ما نعبد ، ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله ، فإن كان الذي جئت به خیرا مما بأیدینا ، كنا قد شاركناك فیه ، وأخذنا بحظنا منه . وإن كان الذي بأیدینا خیرا مما بیدك ، كنت قد شركتنا في أمرنا ، وأخذت بحظك منه

“Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”(Tafsir Al-Qurthubi)

Kemudian turunlah ayat berikut yang menolak keras toleransi kebablasan semacam ini,

  قُلْ یَا أُّ یهَا الكَافِرُونَ. لَا أعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أنتُمْ عَابِدُونَ مَا أعْبُدُ. وَلَا أنَا عَابِدٌ َّ ما عَبَدُّ تمْ. وَلَا أنتُمْ عَابِدُونَ مَا أعْبُدُ. لكُمْ دِینُكُمْ وَليَ دِینِ 

Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

(QS. Al-Kafirun : 1-6).

Bahkan, mengucapkan "selamat hari raya/hari besar" kepada non muslim pun dilarang dalam agama. Allah ta'ala berfirman,

 تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا90  أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا 91      

Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu), Karena mereka (orang Nasrani) menganggap Allah yang maha pengasih mempunyai anak (Qs. Maryam : 90-91).

Maka, pantaskah seorang muslim mengucapkan "selamat" kepada kaum yang menganggap bahwa Allah itu punya anak?!, jika kita mengucapkannya sama saja kita mengucapkan "selamat memperingati kelahiran Isa anak Tuhan".

Jadi, dalam bertoleransi, kita pun harus memiliki sikap yang bijak. Toleransi bukan berarti kita mengikuti keyakinan mereka. Tetapi, kita cukup menghargai saja apa yang mereka lakukan dengan membiarkannya dan tidak berbuat keributan. Biarkanlah mereka lakukan apa yang mereka yakini, sedang kita fokus pada apa yang kita yakini.

 Wal-Lahu A’lam