Muhamad Redho al-Faritzi
Dakwah menurut bahasa diambil dari kata دَعَا- يَدْعُو- دَعْوَةً yang artinya mengajak, mengundang, memanggil, atau menyeru. Sedangkan menurut istilah ialah mengajak atau menyeru untuk berbuat kebaikan atau untuk taat pada perintah Allah swt dan Rasul-Nya.
Dakwah tidak hanya disebarkan dengan cara berdiri diatas minbar dihadapan orang-orang saja. Dakwah juga bisa dilaksanakan dengan cara yang berbeda, seperti mengadakan Madrasah, Mendirikan Remaja Masjid ataupun memakmurkan Masjid. Bahkan dalam hal-hal kecil seperti mengajak shalat berjama’ah atau yang lainnya, itu termasuk dakwah. Rasulullah Saw. bersabda :
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَة
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
Tentu saja, meski Dakwah berbeda-beda cara penyampaiannya. Tapi tetap sama rintangan dan cobaannya. Pendakwah itu mesti sabar dan istiqomah. Seperti mengajak untuk meninggalkan kebiasaan yang dianggap sepele karena sudah terbiasa, padahal di mata Allah Swt. Kebiasaan itu sangat hina. Seperti mendirikan Madrasah, Remaja Masjid, atau mengadakan kegiatan-kegiatan positif, itu mustahil semua masyarakat yang berada dilingkungannya menyetujui dan mendukungnya. Pasti ada saja orang yang tidak suka dan ingin coba menghentikannya. Karena itulah al-Qur’an memperingati pendakwah agar senantiasa sabar ketika menegakan kebenaran, karena ketika kebenaran tegak, tidak mustahil juga kebathilan dan kerusakan ikut tegak juga.
Tidak itu saja, ketika dakwah berlangsung pun kita dituntut untuk bersabar. Bersabar ketika mengajar anak-anak di Madrasah. Bersabar ketika para Remaja Masjid sudah mulai luntur semangatnya. Bersabar ketika menghadapi orang-orang yang menolak dakwah kita dengan sindiran, cibiran atau bahkan dibicarakan dimana-mana. Disitu pula kita dituntut untuk tetap Istiqomah. Karena sejatinya dunia dakwah, pasti berputar layaknya roda, pasti pasang-surut layaknya laut. Artinya tidak akan terus berada dalam keadaan baik-baik saja. Allah pasti mengujinya dengan banyaknya masalah dan cobaan.
Benar dan tepat sekali. Dakwah itu mengajak bukan mengejek. Dakwah itu disampaikan dengan kasih sayang bukan dengan nafsu atau sampai marah-marah. Karena dakwah itu pendekatannya kasih sayang. Orang yang tidak tahu dan melakukan kesalahan, sangat tidak pantas didakwahi dengan marah-marah atau bahkan sampai menghina. Pendakwah harus sabar dan mendakwahi dengan cara kasih sayang, agar kesan yang didapat oleh orang yang didakwahi itu baik kepada pendakwahnya. Dan meyakini bahwa Islam adalah agama kasih sayang, bukan agama yang disebarkan dengan pedang (kekerasan).
Begitu juga dakwah terhadap non-muslim. Pendekatannya adalah pendekatan kasih sayang dan cerminan akhlaq baik. Seperti yang dikatakan oleh khabib nurmagomedov, ahli bela diri muslim yang sempat viral belakangan ini, ia mengatakan bahwa orang non-muslim itu tidak membaca al-Qur’an, mereka tidak membaca hadits. Yang mereka baca adalah dirimu. Maka jadilah cerminan Islam yang baik.
Seperti Rasulullah yang dilempar batu sampai berlumuran darah, sehingga malaikat penjaga gunung menawarkan agar gunung itu ditimpakan kepada orang telah dzalim kepada Rasul. Namun, karena prinsip kasih sayang dalam dakwah itu lekat ada pada Rasul, Rasul menolak tawaran itu dan berkata bahwa “tak usah, mereka itu tidak tahu.”
Dakwah memang harus didasarkan pada ketulusan iman, bukan kebencian dan kemarahan. Dan yang harus digaris bawahi adalah tugas pendakwah itu hanya menyampaikan , tidak harus sampai menghakimi ia masuk surga atau neraka, ia diampuni Allah atau tidak. Karena semua itu hanyalah Allah yang tau, manusia tak layak untuk mengetahuinya. Allah Berfirman dalam beberapa surat :
“Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah : 272)
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qasas : 56)
“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” (QS. Ara’du : 40)
“Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zhalim.” (QS. Ali-Imran : 128)
Wal-Lahu a’lam
