Agar Ilmu Mudah Dipahami


Muhamad Redho al-Faritzi

 

       Ilmu merupakan anugerah sekaligus hadiah dari Allah swt. Kepada manusia yang dikehendakinya. Ternyata, Ilmu itu mudah dicari. Namun, tidak mudah untuk dipahami dan masuk kedalam hati. Karena selain Anugerah, Ilmu juga merupakan cahaya yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam asy-Syafi’I (150-205) yang ketika itu ia mengadu terhadap gurunya yaitu Imam Waki’ (129-197 H) tentang hafalannya yang jelek.

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Imam asy-Syafi’I berkata : “Aku mengadu kepada imam waki’ tentang hafalan ku yang jelek, maka ia memberi petunjuk padaku agar meninggalkan maksiat, dan ia memberitahu bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya tidak akan masuk kepada orang yang bermaksiat.”

            Tentunya, bagi para Thalib (Pencari Ilmu), nasehat Imam waki’ ini harus menjadi sebuah pegangan dalam kehidupannya sehari-hari. Para pencari Ilmu sudah seharusnya untuk berusaha meninggalkan maksiat-maksiat yang sangat memungkinkan untuk membuat Allah murka, sehingga Allah tidak memberi cahaya (Ilmu) itu terhadap dirinya.

            Wajib diketahui juga, bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka bagi para pelaku maksiat Allah tidak menutup rapat pintu taubat, selama nafas terakhirnya belum sampai tenggorokan (meninggal), sebagaimana yang Nabi saw sabdakan,

          إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَالَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba, selagi (nafas) belum menyesak di tenggorokan.”[1]

            Tidak hanya meninggalkan maksiat saja untuk mudah memahami Ilmu, ternyata adab juga besar pengaruhnya terhadap pahamnya suatu Ilmu. Maka dari itu, banyak Ulama yang menasehati : beradablah sebelum berilmu. Ulama yang menasehati tentang pentingnya adab sebelum Ilmu itu salah satunya adalah Imam Malik (90-174 H), beliau pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

 

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kemudian Imam Yusuf bin Al Husain (w.304 H) berkata,

بالأدب تفهم العلم

Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

            Saking pentingnya adab ini, imam asy-Syafi’i pernah ditanya tentang bagaimana ia mencari adab.

"Bagaimana keinginanmu terhadap adab? ia menjawab, ketika aku mendengar satu hal tentang adab maka seluruh anggota tubuhku merasakan nikmat karenanya. Ia ditanya lagi “Bagaimana engkau mencari adab. Ia menjawab “Seperti seorang wanita yang kehilangan anaknya dan ia tidak memiliki apapun selain anak itu.”[2]

            Artinya, dengan mempelajari adab, maka Allah akan memudahkan dalam memahami Ilmu. Tentunya adab disini konteksnya luas, adab terhadap orang tua, guru, lingkungan, teman, dan yang lainnya. Namun tetap, yang paling pertama dan utama adalah adab terhadap Allah swt.

            Adab terhadap Allah bisa diimplementasikan dengan Taqwa, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah pahamkan Ilmu terhadapnya. Allah Berfirman :

 

 وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

 

Dan bertakwalah kepada Allah, Maka Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.[3]

            Maka intinya adalah, cara agar mudah memahami ilmu itu ada dua; yaitu (1) meninggalkan maksiat dan (2) beradab.

 

Wal-Lahu a’Lam



[1] Sunan at-Tirmidzi Bab Fi Fadhli at- taubat wa al-Istighfar No. 3537

[2] Badr al-Din Ibn Jama’ah, Tadzkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, (Beirut : Dar al-Basyair al-Islamiyyah, 2012), hlm. 32

(Mengutip dari Artikel Muhammad Ardiansyah,  Adab Penuntut Ilmu Dalam Syair-Syair Imâm Syâfi’î).

[3] QS. Al-Baqarah [2] : 282