Muhamad Redho al-Faritzi
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Ali Bin Abi
Thalib adalah Khalifah keempat setelah Khalifah Utsman Bin Affan. Beliau
merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad Saw.
Ketika
perang Khandaq, Umat Islam pernah ditantang oleh musuh untuk duel (satu lawan
satu), tepatnya oleh jagoan kafir Quraisy yang sangat ditakuti banyak orang,
yaitu Amr bin Abd Wad al-Amiri.
Maka
Nabi Saw. yang saat itu sebagai pemimpin peperangan bertanya kepada para
sahabat, siapa yang berani untuk menanggapi tawaran Amr ini. Namun yang ada
hanyalah hening. Tak ada satupun sahabat yang berani untuk memenuhi tawaran si
jagoan Kafir Quraisy ini untuk berduel. Karena mengingat si Amr ini adalah
orang yang paling ditakuti dan benar-benar membuat nyali berciut. Sehingga akan
sulit sekali untuk membuka peluang kemenangan ketika duel dengannya.
Ketika
keheningan berlangsung, Ali bin Abi Thalib pun maju, menyanggupi ajakan duel
Amr bin Abd ini. Melihat Ali yang saat itu masih terlalu muda, Nabi Saw. pun
sempat ragu dan khawatir pada Ali, sehingga Nabi Saw. pun menawarkan kembali
ajakan duel itu kepada para sahabat. Sampai tiga kali, para sahabat pun masih
saja terdiam dan hening karena tidak berani. Maka memang hanya Ali lah yang
menyatakan siap dan berani melawan si jagoan Kafir Quraisy ini, maka Nabi Saw.
pun mengizinkannya.
Maka
Amr bin Abd Wad al-Amiri menanggapinya juga namun dengan tertawa mengejek,
karena mengingat Ali yang waktu itu masih terlalu muda.
Namun
faktanya, ketika perkelahian berlangsung, kemenangan tetap berpihak pada Ali,
ketika Ali menebaskan pedangnya pada paha si Amr ini. Maka Amr pun tumbang ke
tanah dan tidak bisa apa-apa karena pahanya sudah terluka oleh Ali. Kemenangan
bagi Ali sudah di depan mata, sehingga satu gerakan lagi Ali bisa membunuh si
Amr ini.
Namun
diluar dugaan, Amr bin Abd yang sudah terpojok ini masih tetap menyempatkan
untuk memberontak dengan meludahi wajah Ali bin Abi Thalib. Menanggapi hinaan
itu, Ali justru menyingkir dan mengurungkan niat untuk membunuh si Amr ini.
Para sahabat pun bingung, ada apa dengan Ali.
“Saat
dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku.
Aku tunggu sampai hilang kemarahanku dan membunuhnya karena Allah Swt. bukan
karena amarahku.” Kata Ali menjawab kebingungan para sahabat atas sikap Ali.
Meskipun
Amr bin Abd ini akhirnya gugur ditangan Ali, tindakan mulia Ali ini memberi
beberapa pelajaran. Bahwa perjuangan dan pembelaan Islam harus berdasarkan keikhlasan
dan ketulusan Iman, bukan karena nafsu kebencian dan kemarahan. Pertama yang
harus ditanamkan justru adalah Ikhlas
karena Allah Swt. dalam melakukan segala sesuatu dan yang harus dilawan dan
diperangi justru adalah nafsu.
Wal-Lahu a’lam
