Muhamad Redho al-Faritzi
Muqaddimah
Jihad
diambil dari kosa kata Bahasa Arab, yaitu جَاهَدَ يُجَاهِدُ مُجَاهَدَةً وَجهَاداً yang artinya bekerja keras, berjuang,
bersungguh-sungguh atau berjihad.
Maka menurut istilah jihad berarti mengerahkan segenap
potensi diri untuk melakukan sesuatu, yakni berperang untuk membela agama Islam.[1]
Tujuan
dari jihad itu sendiri adalah meninggikan kalimat Allah dan membela Agama Islam
dari kalangan orang kafir, munafik, dan
seluruh musuh-musuh agama islam yang menyerang dan menentang Islam.
Arti
kata jihad ini banyak disalahpahami oleh banyak orang. Ada yang menganggap
bahwa inti dari jihad adalah berperang. Ini keliru, karena mengingat adanya
kata lain dalam Bahasa Arab yang bermakna perang, yaitu qital/harb. Dua
kata ini (qital/harb dan jihad) sama-sama memilki arti yang sama,
yaitu perang, namun memiliki makna yang berbeda. Qital/harb adalah
perang karena latar belakang pribadi atau kaum dengan bertujuan mencari
keuntungan, sedangkan jihad adalah perang atas dasar meninggikan agama
Allah Swt.
Menurut
Amri Rahman, pada dasarnya arti kata jihad adalah
"berjuang" atau "ber-usaha dengan keras", namun bukan harus
berarti "perang dalam makna "fisik". Jika sekarang jihad lebih
sering diartikan sebagai "perjuangan untuk agama", itu tidak harus
berarti perjuangan fisik. Jika mengartikan jihad hanya sebagai peperangan fisik
dan extern, untuk membela agama, akan sangat ber-bahaya, sebab akan mudah
dimanfaat-kan dan rentan terhadap fitnah, seperti teroris dan lain-lain.
Maka
dapat dipahami bahwa jihad adalah mencurahkan segala kemampuan yang dimiliki
oleh seseorang. Maka kebaikan apapun yang dilakukan oleh seseorang jika
dilakukan dengan kekuatan maksimal maka sesungguhnya itu adalah jihad. Ibadah
haji adalah ibadah yang membutuhkan kekuatan dan kemampuan baik fisik, finansial,
maupun mental, maka ibadah haji adalah jihad, itulah sebabnya jihadnya
perempuan adalah ibadah haji.[2]
Jihad terbagi menjadi empat
tingkatan, yaitu :
1.
جهاد النفس : Jihad melawan hawa nafsu
KH. Aceng
Zakaria mengutip perkataan Ibnu al-Qayyim dalam makalah pengajiannya,
menjelaskan bahwa Jihad melawan hawa nafsu ini terbagi lagi menjadi empat,
yaitu :
a.
Jihad
dengan artian kerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama,
menggali isi kandungan al-Qur'an dan as-Sunnah. Dengan jihad ini diharapkan
meyakini dan memahami kesempurnaan ajaran Islam
b.
Jihad dengan artian sungguh-sungguh dalam upaya mengamalkan petunjuk-petunjuk
al-Qur'an dan as-Sunnah. Dengan jihad ini diharapkan dapat melaksanakan dan mengamalkan
ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
c.
Jihad
yaitu kerja keras dalam mendakwahkan pesan-pesan al-Qur'an dan mengajarkannya
kepada mereka yang belum mengenal ajaran Islam. Dengan jihad ini diharapkan
dapat mensosialisasikan ajaran-ajaran dan pesan-pesan al-Qur'an dan as-Sunnah
dengan merata ke seluruh lapisan masyarakat.
d.
Jihad
yaitu memiliki ketabahan dalam melaksanakan tugas dakwah yan berat. Dengan
jihad ini diharapkan para mujahid dakwah tidak berputus asaa, tidak pesimis
dalam menghadapi berbagai kendala dakwah.[3]
2.
جهاد الشيطان : Jihad melawan setan
Jihad melawan setan artinya melawan segala gangguan-gangguan setan yang mendorong untuk melakukan kemaksiatan dan kesesatan, dengan cara membiasakan mengisi hari-hari dengan berbagai hal yang bermanfaat dan bernilai pahala, dan meninggalkan segala sesuatu yang memungkinkan untuk menjerumuskan kedalam perbuatan-perbuatan maksiat.
Tidak lupa juga berdo'a kepada Allah agar dilindungi dari godaan-godaan setan. Diantara do'anya ialah :
وَقُلْ رَّبِّ اَعُوۡذُ بِكَ مِنۡ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيۡنِۙ
Dan katakanlah,
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan,
وَاَعُوۡذُ بِكَ رَبِّ اَنۡ يَّحۡضُرُوۡنِ
dan aku
berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati
aku."[4]
3.
جهاد الكفار: Jihad melawan orang-orang kafir
4.
جهاد المنافقين : Jihad melawan orang-orang munafiq
Jihad melawan orang kafir dan munafiq ini diperintahkan oleh Allah swt dalam beberapa ayat, diantaranya :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ
وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ
الْمَصِيرُ
"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang orang munafik itu. dan
bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan
itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya".[5]
Melawan atau memerangi orang kafir itu apabila orang kafir yang
memulai peperangan, mengingat kafir itu
terbagi menjadi dua, ada (1) kafir harbi dan (2) kafir dzimmi. Kafir harbi
yaitu kafir yang boleh diperangi, sedangkan (2) kafir dzimmi adalah kafir yang
diam disekitar orang muslim, yang sehingga mereka harus mebayar jizyah demi
keamanan dan kedamaian mereka.
Imam Ibnu Katsir, dalam kitabnya mencantumkan perkataan Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah Swt. memerintahkan Rasulullah Saw. untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan senjata sedangkan kepada orang-orang munafik dengan lisan (menegakkan hukum-hukum Allah), serta meniadakan sikap lemah lembut terhadap mereka.[6]
Hadits No. 1315
وعنْ أنَسٍ رضي اللَّه
عَنْهُ ، قالَ انْطَلقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم
وَأَصْحَابُهُ حَتَّى سَبَقُوا المشْركِينَ إلى بَدرٍ ، وَجَاءَ المُشرِكونَ ،
فقالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يَقْدمنَّ أحَدٌ
مِنْكُمْ إلى شيءٍ حَتَّى أكُونَ أنا دُونَهُ » فَدَنَا المُشرِكونَ ، فقَال رسُول
اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قُومُوا إلى جَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمواتُ وَالأَرْضُ » قال : يَقولُ عُمَيْرُ بنُ الحُمَامِ الأنْصَارِيُّ رضي
اللَّه عَنْهُ : يا رسولَ اللَّه جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمواتُ والأرضُ ؟ قالَ : «
نَعم » قالَ : بَخٍ بَخٍ ، فقالَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «
ما يَحْمِلُكَ على قَولِكَ بَخٍ بخٍ ؟ » قالَ لا وَاللَّهِ يا رسُول اللَّه إلاَّ
رَجاءَ أن أكُونَ مِنْ أهْلِها ، قال : « فَإنَّكَ مِنْ أهْلِهَا » فَأخْرج
تَمَرَاتٍ مِنْ قَرَنِهِ ، فَجَعَل يَأْكُلُ منْهُنَّ، ثُمَّ قَال لَئِنْ أنَا
حَييتُ حتى آكُل تَمَراتي هذِهِ إنَّهَا لحَيَاةٌ طَويلَةٌ ، فَرَمَى بمَا مَعَهُ
مَنَ التَّمْرِ . ثُمَّ قَاتَلَهُمْ حَتَّى قُتِلَ . رواهُ مسلمٌ .
"Rasulullah
shalallahu alaihi wasalam dan para sahabatnya berangkat sehingga mereka dapat
mendahului kaum musyrikin ke suatu tempat bernama Badar, lalu kaum musyrikinpun
datanglah. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam lalu bersabda: "Janganlah
ada seorangpun yang mendahului bertindak diantara engkau semua ini kepada sesuatu
tindakan, sehingga saya adalah yang terdekat daripadanya -yakni harus
mendapatkan persetujuan dulu. Kaum musyrikin lalu mendekat. Selanjutnya
Rasulullah bersabda pula: "Ayolah berdiri semua untuk menuju ke surga yang
luasnya adalah seluas semua langit dan bumi." Anas berkata; "Umair
bin al-Humam al-Anshari r.a, berkata: "Ya Rasulullah, surga itu luasnya
adalah seluas semua langit dan bumi?" Beliau shalallahu alaihi wasalam
menjawab: "Ya." Ia berkata: "Aduh, aduh." Rasulullah
shalallahu alaihi wasalam lalu bertanya: "Apa yang menyebabkan engkau
mengucapkan: "Aduh, aduh." Ia menjawab: "Tidak, demi Allah ya
Rasulullah, hanya saja saya mengharapkan semoga saya dapat menjadi ahli surga
itu." Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Engkau termasuk
ahli surga itu."'Umair lalu mengeluarkan beberapa buah kurma dari dalam
tempatnya lalu makan sebagian daripadanya, kemudian berkata: "Sesungguhnya
kalau saya masih hidup sehingga saya dapat makan habis kurma-kurmaku ini, maka
itu adalah hidup yang panjang sekali." Ia pun lalu melemparkan kurma yang
dibawanya itu lalu maju untuk memerangi kaum musyrikin tadi sehingga ia sendiri
terbunuh."
Takhrij
Hadits
Hadits ini diterima oleh Anas bin Malik, diriwayatkan dalam Kitab :
1.
Shahih
Muslim Bab tsubutu al-jannah lil-syahiid No. 5024
2. Musnad Ahmad No. 11949
Syarah
Mufradat
بَخٍ بَخٍ : Kalimat yang diucapkan ketika memuji dan senang
terhadap sesuatu, dan mengulang-ulangnya adalah untuk melebihkan, dan maknanya
adalah besarnya suatu perkara dan mengagungkannya.[7]
Syarah
Hadits
Hadits di atas menjelaskan bahwa salah satu keutamaan dari jihad itu adalah masuk surga. Sebagaimana firman Allah swt :
يَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ
وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ
ذٰلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيْمُۙ
"Niscaya Allah
mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam
surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung."[8]
Adapun keutamaan-keutamaan jihad yang lainnya adalah :
1.
Tidak mati, tetapi hakikatnya ia masih hidup disisi Allah swt.
وَلَا تَحْسَبَنَّ
الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ
رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ
Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di
sisi Tuhannya mendapat rezeki,[9]
2. Bergembira, tidak ada rasa takut dan sedih
فَرِحِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ
مِنْ فَضْلِه وَيَسْتَبْشِرُوْنَ
بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْ ۙ اَلَّا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۘ
"Mereka
bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati
terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa
tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati".[10]
3. Diampuni dosa-dosanya
تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ
ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ (11)
يَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ...(12)
4.
Amal yang paling dicintai oleh Allah swt.
عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ –
وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ –
وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – :
أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا .
قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ
: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ –
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي
Hadits ini
juga menjelaskan keutamaan para sahabat Rasulullah saw. yang sangat antusias
dan berlomba-lomba terhadap amlan Jihad, meski mereka mengetahui resikonya,
yaitu meninggal dunia. Tapi tentunya bagi mereka dunia hanyalah tempat untuk
ditinggalkan, terlebih mereka mengetahui keutamaan jihad itu sendiri, yaitu
masuk surga dan diampuni dosa-dosanya.
Hadits No. 1316
وعنه قال : جاءَ ناسٌ إلى النبي صَلّى
اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أنِ ابْعث معنَا رجالاً يُعَلِّمونَا القُرآنَ
والسُّنَّةَ، فَبعثَ إلَيْهِم سبعِينَ رجلا مِنَ الأنْصارِ يُقَالُ لهُمُ :
القُرَّاءُ ، فيهِم خَالي حرَامٌ ، يقرؤُون القُرآنَ ، ويتَدَارسُونَهُ باللَّيْلِ
يتعلَّمُونَ ، وكانُوا بالنَّهار يجيئُونَ بالماءِ ، فَيَضعونهُ في المسجِدِ ،
ويحْتَطِبُون فَيبيعُونه ، ويَشْتَرُونَ بِهِ الطَّعام لأهلِ الصُّفَّةِ
ولِلفُقراءِ ، فبعثَهم النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فعرضوا لهم فقتلُوهُم
قبل أنْ يبلُغُوا المكانَ ، فقَالُوا : اللَّهُمَّ بلِّغ عنَّا نَبيَّنَا أَنَّا
قَد لَقِينَاكَ فَرضِينَا عنْكَ ورضيت عَنا ، وأَتى رجُلٌ حراماً خالَ أنس مِنْ
خَلْفِهِ ، فَطعنَهُ بِرُمحٍ حتى أنْفَذهُ ، فَقَال حرامٌ : فُزْتُ وربِّ
الكَعْبةِ ، فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ إخْوانَكم
قَد قُتِلُوا وإنهم قالُوا : اللَّهُمَّ بلِّغ عنَّا نبينا أَنَّا قَد لَقِيناكَ
فَرضِينَا عنكَ ورضِيتَ عَنَّا
"Ada
beberapa orang -dari Najab- datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasalam dan
mereka berkata: "Kirimkanlah kepada kita semua beberapa orang lelaki yang
dapat mengajarkan al-Quran dan as-Sunnah kepada kita itu." Nabi shalallahu
alaihi wasalam lalu mengirimkan kepada mereka sebanyak tujuh puluh orang dari
golongan kaum Anshar yang dinamakan al-Qurra' -yakni para ahli baca al-Quran-.
Di dalam kalangan mereka itu termasuk pulalah paman saya -yakni saudara lelaki
dari ibu Anas- yang bernama Haram. Tujuh puluh orang di atas itu semua dapat
membaca al-Quran serta mentadarusnya -membaca secara berganti-ganti- di waktu
malam juga mempelajarinya, sedang pada siang harinya mereka bekerja membawa air
lalu mereka letakkan dalam masjid selain itu mereka juga mencari kayu bakar
lalu menjualnya dan dengan uang hasil penjualannya itu mereka membeli makanan
untuk para ahlus shuffah dan pula untuk
kaum fakir yang lain-lain. Mereka semuanya -tujuh puluh orang tadi- dikirimkan
oleh Nabi shalallahu alaihi wasalam Tiba-tiba mereka dihadang oleh kaum
musyrikin -yakni musuh kaum Muslimin, kemudian musuh-musuh itu membunuh mereka
sebelum mereka sampai di tempat yang dituju. Mereka -kaum Muslimin- itu
berkata: "Ya Allah, sampaikanlah berita kita ini kepada Nabi kita, yaitu
bahwa kita semua telah menemui Engkau -Allah-, lalu kita merasa ridha denganMu
dan Engkau ridha dengan amalan kita ini." Ada seorang lelaki -musuh-
datang kepada Haram dari arah belakangnya, lalu orang itu menusuknya dengan
tombak sehingga ia dapat menewaskannya. Haram berkata: "Saya berbahagia
-karena dapat menemui mati syahid, demi Zat yang menguasai Ka'bah."
Rasulullah shalallahu alaihi wasalam lalu bersabda: "Sesungguhnya
saudara-saudaramu telah dibunuh dan sesungguhnya mereka berkata: "Ya
Allah, sampaikanlah berita kita ini kepada Nabi kita yaitu bahwa kita semua
telah menemui Engkau -Allah-, lalu kita semua merasa ridha denganMu dan Engkau
ridha dengan amalan kita ini.".
Takhrij Hadits
Hadits ini diterima oleh Anas bin Malik, diriwayatkan dalam Kitab :
1.
Shahih
Muslim Bab tsubutu al-jannah lil-syahiid No. 5026
Syarah
Mufradat
: أهلِ الصُّفَّةِkaum fakir
miskin yang tidak berkeluarga yang bertempat di belakang masjid dan memfokuskan diri untuk belajar.
Syarah
Hadits
Hadits ini mengajarkan bahwa Jihad
itu tidak hanya berperang, sebagaimana yang dijelaskan di atas. Mengajarkan
al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan jihad juga, Jihad melawan kebodohan. Allah
swt pun pernah berfirman, bahwa tidak seharusnya semua muslim berperang ke
medan perang, tetapi harus ada yang mendalami agama :
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ
لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ
طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا
رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ
Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin
itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di
antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka
dapat menjaga dirinya.[12]
Itulah beberapa penjelasan
mengenai mengapa kita harus berjihad. Sudah seharusnya bagi kaum muslimin untuk
mempunyai antusias dan semangat terhadap jihad, baik jihad secara fisik ataupun
non-fisik.
Tentunya amalan jihad ini juga
harus dibarengi dengan niat dan hati yang bersih, karena banyak yang berjihad
namun hanya ingin dipuji oleh orang-orang. Sebagaimana
hadits rosul, yang menceritakan tiga orang yang sedang dihisab, diantaranya
adalah orang yang jihad. Bukannya mendapat kemuliaan, tetapi justru dilemparkan
kedalam neraka.
“Sesungguhnya orang pertama yang
dihisab pada hari qiyamat adalah: (1) orang yang syahid. Ia didatangkan, lalu
dijelaskan nikmatnya dan ia pun mengenalinya. Dia (Allah Swt) berfirman: “Apa
yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?” Ia menjawab: “Aku berperang di jalan-Mu
sehingga aku syahid.” Dia berfirman: “Kamu dusta, kamu berperang agar disebut
pahlawan, dan sungguh kamu telah mendapatkannya.” Lalu diperintahkan agar ia
diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.
[1]
https://mui.or.id/tanya-jawab-keislaman/28375/apakah-sebenarnya-makna-jihad/
[2] Amri Rahman, Jurnal
Pendidikan Agama Islam, Memahami Jihad Dalam Perspektif Islam (Upaya
Menangkal Tuduhan Terorisme Dalam Islam)
https://media.neliti.com/media/publications/321423-memahami-jihad-dalam-perspektif-islam-up-e32f4593.pdf
[3] KH. Aceng Zakaria, Tingkatan-tingkatan
Jihad dalam Makalah Pengajian Ahad (12 Mei 2019) di Sekretariat PP. PERSIS.
[4] Q.S al-Mu'minun [23] : 97-98
[5] Q.S at-Taubah [9] : 73.
Ayat yang semisal : Q.S at-Tahrim [66] :
9
[6] Tafsir Ibnu Katsir Surat Q.S at-Taubah [9] : 73 dan Q.S at-Tahrim [66] : 9
[7] Kitab Rauhu wa raihan
syarh riyadush-shalihin Hal. 793
[8] Q.S ash-Shaf [61] : 12
[9] Q.S ali-Imran [3] : 169
[10] Q.S ali-Imran [3] : 170
[11] Referensi:
https://almanhaj.or.id/9604-amalan-yang-paling-dicintai-allah.html
[12] Q.S at-Taubah [9] : 122