Syarah Hadits Tentang Jihad

 





Muhamad Redho al-Faritzi

 

 

Muqaddimah

              Jihad diambil dari kosa kata Bahasa Arab, yaitu جَاهَدَ يُجَاهِدُ مُجَاهَدَةً وَجهَاداً yang artinya bekerja keras, berjuang, bersungguh-sungguh atau berjihad. Maka menurut istilah jihad  berarti mengerahkan segenap potensi diri untuk melakukan sesuatu, yakni berperang untuk membela agama Islam.[1]

              Tujuan dari jihad itu sendiri adalah meninggikan kalimat Allah dan membela Agama Islam dari kalangan orang kafir, munafik, dan seluruh musuh-musuh agama islam yang menyerang dan menentang Islam.

              Arti kata jihad ini banyak disalahpahami oleh banyak orang. Ada yang menganggap bahwa inti dari jihad adalah berperang. Ini keliru, karena mengingat adanya kata lain dalam Bahasa Arab yang bermakna perang, yaitu qital/harb. Dua kata ini (qital/harb dan jihad) sama-sama memilki arti yang sama, yaitu perang, namun memiliki makna yang berbeda. Qital/harb adalah perang karena latar belakang pribadi atau kaum dengan bertujuan mencari keuntungan, sedangkan jihad adalah perang atas dasar meninggikan agama Allah Swt.

              Menurut Amri Rahman, pada dasarnya arti kata jihad adalah "berjuang" atau "ber-usaha dengan keras", namun bukan harus berarti "perang dalam makna "fisik". Jika sekarang jihad lebih sering diartikan sebagai "perjuangan untuk agama", itu tidak harus berarti perjuangan fisik. Jika mengartikan jihad hanya sebagai peperangan fisik dan extern, untuk membela agama, akan sangat ber-bahaya, sebab akan mudah dimanfaat-kan dan rentan terhadap fitnah, seperti teroris dan lain-lain.

Maka dapat dipahami bahwa jihad adalah mencurahkan segala kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Maka kebaikan apapun yang dilakukan oleh seseorang jika dilakukan dengan kekuatan maksimal maka sesungguhnya itu adalah jihad. Ibadah haji adalah ibadah yang membutuhkan kekuatan dan kemampuan baik fisik, finansial, maupun mental, maka ibadah haji adalah jihad, itulah sebabnya jihadnya perempuan adalah ibadah haji.[2]

Jihad terbagi menjadi empat tingkatan, yaitu :

1.        جهاد النفس :  Jihad melawan hawa nafsu

KH. Aceng Zakaria mengutip perkataan Ibnu al-Qayyim dalam makalah pengajiannya, menjelaskan bahwa Jihad melawan hawa nafsu ini terbagi lagi menjadi empat, yaitu :

a.       Jihad dengan artian kerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama, menggali isi kandungan al-Qur'an dan as-Sunnah. Dengan jihad ini diharapkan meyakini dan memahami kesempurnaan ajaran Islam

b.      Jihad dengan artian sungguh-sungguh dalam upaya mengamalkan petunjuk-petunjuk al-Qur'an dan as-Sunnah. Dengan jihad ini diharapkan dapat melaksanakan dan mengamalkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

c.       Jihad yaitu kerja keras dalam mendakwahkan pesan-pesan al-Qur'an dan mengajarkannya kepada mereka yang belum mengenal ajaran Islam. Dengan jihad ini diharapkan dapat mensosialisasikan ajaran-ajaran dan pesan-pesan al-Qur'an dan as-Sunnah dengan merata ke seluruh lapisan masyarakat.

d.      Jihad yaitu memiliki ketabahan dalam melaksanakan tugas dakwah yan berat. Dengan jihad ini diharapkan para mujahid dakwah tidak berputus asaa, tidak pesimis dalam menghadapi berbagai kendala dakwah.[3]

 

2.       جهاد الشيطان : Jihad melawan setan

Jihad melawan setan artinya melawan segala gangguan-gangguan setan yang mendorong untuk melakukan kemaksiatan dan kesesatan, dengan cara membiasakan mengisi hari-hari dengan berbagai hal yang bermanfaat dan bernilai pahala, dan meninggalkan segala sesuatu yang memungkinkan untuk menjerumuskan kedalam perbuatan-perbuatan maksiat.

Tidak lupa juga berdo'a kepada Allah agar dilindungi dari godaan-godaan setan. Diantara do'anya ialah :

وَقُلْ رَّبِّ اَعُوۡذُ بِكَ مِنۡ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيۡنِۙ

Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan,

وَاَعُوۡذُ بِكَ رَبِّ اَنۡ يَّحۡضُرُوۡنِ

dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku."[4]


3.        جهاد الكفار: Jihad melawan orang-orang kafir

4.      جهاد المنافقين : Jihad melawan orang-orang munafiq

Jihad melawan orang kafir dan munafiq ini diperintahkan oleh Allah swt dalam beberapa ayat, diantaranya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang orang munafik itu. dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya".[5]

Melawan atau memerangi orang kafir itu apabila orang kafir yang memulai peperangan, mengingat  kafir itu terbagi menjadi dua, ada (1) kafir harbi dan (2) kafir dzimmi. Kafir harbi yaitu kafir yang boleh diperangi, sedangkan (2) kafir dzimmi adalah kafir yang diam disekitar orang muslim, yang sehingga mereka harus mebayar jizyah demi keamanan dan kedamaian mereka.

 

Imam Ibnu Katsir, dalam kitabnya mencantumkan perkataan Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah Swt. memerintahkan Rasulullah Saw. untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan senjata sedangkan kepada  orang-orang munafik dengan lisan (menegakkan hukum-hukum Allah), serta meniadakan sikap lemah lembut terhadap mereka.[6]


 

Hadits No. 1315

 

وعنْ أنَسٍ رضي اللَّه عَنْهُ ، قالَ انْطَلقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَأَصْحَابُهُ حَتَّى سَبَقُوا المشْركِينَ إلى بَدرٍ ، وَجَاءَ المُشرِكونَ ، فقالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يَقْدمنَّ أحَدٌ مِنْكُمْ إلى شيءٍ حَتَّى أكُونَ أنا دُونَهُ » فَدَنَا المُشرِكونَ ، فقَال رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قُومُوا إلى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمواتُ وَالأَرْضُ » قال : يَقولُ عُمَيْرُ بنُ الحُمَامِ الأنْصَارِيُّ رضي اللَّه عَنْهُ : يا رسولَ اللَّه جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمواتُ والأرضُ ؟ قالَ : « نَعم » قالَ : بَخٍ بَخٍ ، فقالَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما يَحْمِلُكَ على قَولِكَ بَخٍ بخٍ ؟ » قالَ لا وَاللَّهِ يا رسُول اللَّه إلاَّ رَجاءَ أن أكُونَ مِنْ أهْلِها ، قال : « فَإنَّكَ مِنْ أهْلِهَا » فَأخْرج تَمَرَاتٍ مِنْ قَرَنِهِ ، فَجَعَل يَأْكُلُ منْهُنَّ، ثُمَّ قَال لَئِنْ أنَا حَييتُ حتى آكُل تَمَراتي هذِهِ إنَّهَا لحَيَاةٌ طَويلَةٌ ، فَرَمَى بمَا مَعَهُ مَنَ التَّمْرِ . ثُمَّ قَاتَلَهُمْ حَتَّى قُتِلَ . رواهُ مسلمٌ .

 

"Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan para sahabatnya berangkat sehingga mereka dapat mendahului kaum musyrikin ke suatu tempat bernama Badar, lalu kaum musyrikinpun datanglah. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam lalu bersabda: "Janganlah ada seorangpun yang mendahului bertindak diantara engkau semua ini kepada sesuatu tindakan, sehingga saya adalah yang terdekat daripadanya -yakni harus mendapatkan persetujuan dulu. Kaum musyrikin lalu mendekat. Selanjutnya Rasulullah bersabda pula: "Ayolah berdiri semua untuk menuju ke surga yang luasnya adalah seluas semua langit dan bumi." Anas berkata; "Umair bin al-Humam al-Anshari r.a, berkata: "Ya Rasulullah, surga itu luasnya adalah seluas semua langit dan bumi?" Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: "Ya." Ia berkata: "Aduh, aduh." Rasulullah shalallahu alaihi wasalam lalu bertanya: "Apa yang menyebabkan engkau mengucapkan: "Aduh, aduh." Ia menjawab: "Tidak, demi Allah ya Rasulullah, hanya saja saya mengharapkan semoga saya dapat menjadi ahli surga itu." Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Engkau termasuk ahli surga itu."'Umair lalu mengeluarkan beberapa buah kurma dari dalam tempatnya lalu makan sebagian daripadanya, kemudian berkata: "Sesungguhnya kalau saya masih hidup sehingga saya dapat makan habis kurma-kurmaku ini, maka itu adalah hidup yang panjang sekali." Ia pun lalu melemparkan kurma yang dibawanya itu lalu maju untuk memerangi kaum musyrikin tadi sehingga ia sendiri terbunuh."

 

Takhrij Hadits

Hadits ini diterima oleh Anas bin Malik, diriwayatkan dalam Kitab :

1.        Shahih Muslim Bab tsubutu al-jannah lil-syahiid No. 5024

2.       Musnad Ahmad No. 11949

Syarah Mufradat

بَخٍ بَخٍ : Kalimat yang diucapkan ketika memuji dan senang terhadap sesuatu, dan mengulang-ulangnya adalah untuk melebihkan, dan maknanya adalah besarnya suatu perkara dan mengagungkannya.[7]

Syarah Hadits

Hadits di atas menjelaskan bahwa salah satu keutamaan dari jihad itu adalah masuk surga. Sebagaimana firman Allah swt :

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ

ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۙ

"Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung."[8]

Adapun keutamaan-keutamaan jihad yang lainnya adalah :

 

1.        Tidak mati, tetapi hakikatnya ia masih hidup disisi Allah swt.

 

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ

 Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki,[9]

2.       Bergembira, tidak ada rasa takut dan sedih

فَرِحِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِه وَيَسْتَبْشِرُوْنَ بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْ ۙ اَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۘ

"Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati".[10]

3.       Diampuni dosa-dosanya

تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ (11)

 يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ...(12)

 

4.      Amal yang paling dicintai oleh Allah swt.

 

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Dari Abu Amr asy-Syaibâni –namanya Sa’d bin Iyâs- berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku –sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dengan tangannya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.”[11]

            Hadits ini juga menjelaskan keutamaan para sahabat Rasulullah saw. yang sangat antusias dan berlomba-lomba terhadap amlan Jihad, meski mereka mengetahui resikonya, yaitu meninggal dunia. Tapi tentunya bagi mereka dunia hanyalah tempat untuk ditinggalkan, terlebih mereka mengetahui keutamaan jihad itu sendiri, yaitu masuk surga dan diampuni dosa-dosanya.


 

Hadits No. 1316

وعنه قال : جاءَ ناسٌ إلى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أنِ ابْعث معنَا رجالاً يُعَلِّمونَا القُرآنَ والسُّنَّةَ، فَبعثَ إلَيْهِم سبعِينَ رجلا مِنَ الأنْصارِ يُقَالُ لهُمُ : القُرَّاءُ ، فيهِم خَالي حرَامٌ ، يقرؤُون القُرآنَ ، ويتَدَارسُونَهُ باللَّيْلِ يتعلَّمُونَ ، وكانُوا بالنَّهار يجيئُونَ بالماءِ ، فَيَضعونهُ في المسجِدِ ، ويحْتَطِبُون فَيبيعُونه ، ويَشْتَرُونَ بِهِ الطَّعام لأهلِ الصُّفَّةِ ولِلفُقراءِ ، فبعثَهم النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فعرضوا لهم فقتلُوهُم قبل أنْ يبلُغُوا المكانَ ، فقَالُوا : اللَّهُمَّ بلِّغ عنَّا نَبيَّنَا أَنَّا قَد لَقِينَاكَ فَرضِينَا عنْكَ ورضيت عَنا ، وأَتى رجُلٌ حراماً خالَ أنس مِنْ خَلْفِهِ ، فَطعنَهُ بِرُمحٍ حتى أنْفَذهُ ، فَقَال حرامٌ : فُزْتُ وربِّ الكَعْبةِ ، فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ إخْوانَكم قَد قُتِلُوا وإنهم قالُوا : اللَّهُمَّ بلِّغ عنَّا نبينا أَنَّا قَد لَقِيناكَ فَرضِينَا عنكَ ورضِيتَ عَنَّا

 

"Ada beberapa orang -dari Najab- datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasalam dan mereka berkata: "Kirimkanlah kepada kita semua beberapa orang lelaki yang dapat mengajarkan al-Quran dan as-Sunnah kepada kita itu." Nabi shalallahu alaihi wasalam lalu mengirimkan kepada mereka sebanyak tujuh puluh orang dari golongan kaum Anshar yang dinamakan al-Qurra' -yakni para ahli baca al-Quran-. Di dalam kalangan mereka itu termasuk pulalah paman saya -yakni saudara lelaki dari ibu Anas- yang bernama Haram. Tujuh puluh orang di atas itu semua dapat membaca al-Quran serta mentadarusnya -membaca secara berganti-ganti- di waktu malam juga mempelajarinya, sedang pada siang harinya mereka bekerja membawa air lalu mereka letakkan dalam masjid selain itu mereka juga mencari kayu bakar lalu menjualnya dan dengan uang hasil penjualannya itu mereka membeli makanan untuk para ahlus shuffah  dan pula untuk kaum fakir yang lain-lain. Mereka semuanya -tujuh puluh orang tadi- dikirimkan oleh Nabi shalallahu alaihi wasalam Tiba-tiba mereka dihadang oleh kaum musyrikin -yakni musuh kaum Muslimin, kemudian musuh-musuh itu membunuh mereka sebelum mereka sampai di tempat yang dituju. Mereka -kaum Muslimin- itu berkata: "Ya Allah, sampaikanlah berita kita ini kepada Nabi kita, yaitu bahwa kita semua telah menemui Engkau -Allah-, lalu kita merasa ridha denganMu dan Engkau ridha dengan amalan kita ini." Ada seorang lelaki -musuh- datang kepada Haram dari arah belakangnya, lalu orang itu menusuknya dengan tombak sehingga ia dapat menewaskannya. Haram berkata: "Saya berbahagia -karena dapat menemui mati syahid, demi Zat yang menguasai Ka'bah." Rasulullah shalallahu alaihi wasalam lalu bersabda: "Sesungguhnya saudara-saudaramu telah dibunuh dan sesungguhnya mereka berkata: "Ya Allah, sampaikanlah berita kita ini kepada Nabi kita yaitu bahwa kita semua telah menemui Engkau -Allah-, lalu kita semua merasa ridha denganMu dan Engkau ridha dengan amalan kita ini.".

 

Takhrij Hadits

Hadits ini diterima oleh Anas bin Malik, diriwayatkan dalam Kitab :

1.        Shahih Muslim Bab tsubutu al-jannah lil-syahiid No. 5026

Syarah Mufradat

   : أهلِ الصُّفَّةِkaum fakir miskin yang tidak berkeluarga yang bertempat di belakang masjid dan memfokuskan diri untuk belajar.

Syarah Hadits

              Hadits ini mengajarkan bahwa Jihad itu tidak hanya berperang, sebagaimana yang dijelaskan di atas. Mengajarkan al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan jihad juga, Jihad melawan kebodohan. Allah swt pun pernah berfirman, bahwa tidak seharusnya semua muslim berperang ke medan perang, tetapi harus ada yang mendalami agama :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.[12]

              Itulah beberapa penjelasan mengenai mengapa kita harus berjihad. Sudah seharusnya bagi kaum muslimin untuk mempunyai antusias dan semangat terhadap jihad, baik jihad secara fisik ataupun non-fisik.

              Tentunya amalan jihad ini juga harus dibarengi dengan niat dan hati yang bersih, karena banyak yang berjihad namun hanya ingin dipuji oleh orang-orang. Sebagaimana hadits rosul, yang menceritakan tiga orang yang sedang dihisab, diantaranya adalah orang yang jihad. Bukannya mendapat kemuliaan, tetapi justru dilemparkan kedalam neraka.

“Sesungguhnya orang pertama yang dihisab pada hari qiyamat adalah: (1) orang yang syahid. Ia didatangkan, lalu dijelaskan nikmatnya dan ia pun mengenalinya. Dia (Allah Swt) berfirman: “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?” Ia menjawab: “Aku berperang di jalan-Mu sehingga aku syahid.” Dia berfirman: “Kamu dusta, kamu berperang agar disebut pahlawan, dan sungguh kamu telah mendapatkannya.” Lalu diperintahkan agar ia diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.



[1] https://mui.or.id/tanya-jawab-keislaman/28375/apakah-sebenarnya-makna-jihad/

[2] Amri Rahman, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Memahami Jihad Dalam Perspektif Islam (Upaya Menangkal Tuduhan Terorisme Dalam Islam) https://media.neliti.com/media/publications/321423-memahami-jihad-dalam-perspektif-islam-up-e32f4593.pdf

[3] KH. Aceng Zakaria, Tingkatan-tingkatan Jihad dalam Makalah Pengajian Ahad (12 Mei 2019) di Sekretariat PP. PERSIS.

[4] Q.S al-Mu'minun [23] : 97-98

[5] Q.S at-Taubah [9] : 73. Ayat  yang semisal : Q.S at-Tahrim [66] : 9

[6] Tafsir Ibnu Katsir Surat Q.S at-Taubah [9] : 73 dan Q.S at-Tahrim [66] : 9

[7] Kitab Rauhu wa raihan syarh riyadush-shalihin Hal. 793

[8] Q.S ash-Shaf [61] : 12

[9] Q.S ali-Imran [3] : 169

[10] Q.S ali-Imran [3] : 170

[11] Referensi: https://almanhaj.or.id/9604-amalan-yang-paling-dicintai-allah.html

[12] Q.S at-Taubah [9] : 122