Orang yang Sholat Celaka, Mengapa?

 


 

Muhamad Redho al-Faritzi


Sudah seharusnya, kita sebagai umat muslim bertanya-tanya. Mengapa ada orang yang shalat, bukannya mendapat pahala dan kemuliaan, ini malah celaka dan mendapat siksaan? Bukannya shalat adalah ibadah? Shalat adalah amalan yang mulia? Lalu mengapa jika mengamalkan shalat ini malah celaka, hina dan mendapat siksaan?

 

Tulisan ini berkaitan dengan Firman Allah swt. dalam surat al-Ma'un ayat 4 – 6 :

 

فَوَيۡل لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥  ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.(4) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.(5) orang-orang yang berbuat riya.(6)

Allah menjelaskan dalam ayat ini, siapa saja orang yang celaka dalam shalat itu. Yaitu orang yang selalu lalai dalam shalatnya dan selalu riya (ingin dipuji orang-orang). Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, maksud kata 'lalai' dalam ayat ini :

وَإِمَّا عَنْ وَقْتِهَا الْأَوَّلِ فَيُؤَخِّرُونَهَا إِلَى آخِرِهِ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا. وَإِمَّا عَنْ أَدَائِهَا بِأَرْكَانِهَا وَشُرُوطِهَا عَلَى الْوَجْهِ الْمَأْمُورِ بِهِ. وَإِمَّا عَنِ الْخُشُوعِ فِيهَا والتدبر لمعانيها، فاللفظ يشمل هذا كله،

"Yang dimaksud "lalai" di sana, bisa dari waktunya yang pertama sehingga mereka mengakhirkannya dan sudah jadi kebiasaan. Bisa dari pemenuhan rukun dan syaratnya yang tidak sempurna sebagaimana diperintahkan. Bisa juga dari khusyu' dan tidak mentadabburi maknanya. Lafazh "lalai" mencakup semua makna ini." (Tafsir Ibnu Katsir surat al-Ma'un)

Maka orang yang lalai disini itu ada tiga; (1) Lalai dari waktunya, artinya ia selalu menanti-nanti waktu shalat atau bahkan mengakhirkannya. kemudian (2) lalai dari rukun-rukunnya, artinya ia tidak pernah memperhatikan gerakan shalatnya, apakah sudah sesuai dengan yang rasul contohkan atau tidak, kemudian (3) lalai dari kekhusyuannya, artinya ia tidak fokus ketika shalat, bahkan tidak mengingat Allah sedikitpun dalam shalatnya.

Orang yang shalatnya tidak pernah khusyu, selalu malas dan hanya ingin dilihat atau dipuji orang-orang, Dalam surat an-Nisa, Allah sebut mereka orang munafiq :

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan
manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa` [4] : 142).

Maka dapat disimpulkan, orang-orang yang celaka dalam shalatnya itu adalah :

1. Orang yang lalai dalam shalatnya. lalai dari waktunya, lalai dari rukun-rukunnya, dan lalai dari kekhusyuannya.

2. Orang yang selalu ingin dipuji atau dilihat orang lain dalam shalatnya. ketika banyak orang ia shalat, namun ketika sendiri ia meninggalkannya. Mereka sebatas formalitas, dan tidak ada sedikitpun rasa Ikhlas

3. Orang yang malas ketika shalatnya. 

4. Orang yang tidak mengingat Allah sedikitpun dalam shalatnya.

Rasulullah pernah bersabda, bahwa shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab, maka perbaikilah shalat kita agar tidak termasuk orang-orang yang shalat namun celaka seperti yang telah disebutkan diatas.

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Amalan hamba yang pertama kali dihisab hari kiamat adalah sholat, jika sholat itu bagus, dia beruntung dan berhasil, jika cacat dia menyesal dan merugi. Bila sholat wajibnya tidak sempurna, Allah SWT berkata, ”Lihatlah apakah hamba-Ku punya amalan sunnah sehingga bisa menutupi amalan wajibnya, dengan demikian tertutup segala amalnya.

Tidak hanya itu, Rasulullah juga pernah menyebutkan bahwa shalat tepat pada waktunya adalah amalan yang paling dicintai Allah swt.


عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: "الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا". قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: " بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ". قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: "الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ"

Dari Ibnu Mas'ud, dia berkata, Aku berkata, "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, " Shalat pada waktunya ." Aku berkata, "Lalu apa?" Beliau menjawab, " Berbakti kepada kedua orang tua .” Aku berkata, "Lalu apa?" Beliau menjawab, " Berjihad di jalan Allah ." (HR.Bukhori Muslim) 

Namun, ketika kita sadar bahwa ketika kita shalat, lalu menganggap pahala shalat kita itu sia-sia, karena masih belum ada rasa ikhlas, masih lalai ataupun tidak khusyu, maka bukan berarti kita harus meninggalkan  itu semua. Shalat tetaplah kewajiban. Dan yang harus kita lakukan bukanlah meninggalkan shalat itu, tetapi kita harus bermuhasabah diri, memperbaiki dan meningkatkan kualitas shalat kita.

Ikhlas memanglah amalan yang paling berat. Sekelas ulama seperti syeikh Utsaimin pun pernah berkata : "Tidak ada amalan yang paling berat aku mengamalkannya, kecali Ikhlas."

Maka tetaplah shalat, meski itu terpaksa dan terkesan berat. Karena semuanya itu butuh proses. Terciptanya suatu Keikhlasan dalam beramal itu adalah ketika kita memaksakan diri dalam mengerjakan amalan itu, kemudian membiasakannya dan tetap Istiqomah. Maka waktu demi waktu, keikhlasan kita dalam beramal akan muncul didalam diri kita.


Wal-Lahu a'lam