Muhamad
Redho al-Faritzi
Sudah tak asing lagi, Imam al-Ghazali adalah Ulama besar pada zamannya. Ia sering dijuluki Hujjatul Islam, karena hujjah-hujjahnya yang tajam dan begitu luas ilmunya. Kedalaman dan keluasan Ilmunya ini, membuatnya mampu mencakup hampir semua disiplin Ilmu yang berkembang pada masanya.
Al-Ghazali adalah seorang faqih, ushul, mantiqi,
mutakallim, filsuf, dan juga shufi. Dalam semua bidang itu
al-Ghazali telah menulis karya-karya yang membuat para ulama dan Ilmuwan sibuk
mengkajinya.[1]
Yang membuat ulama kelahiran tahun 1059 Masehi ini luas
Ilmunya adalah karena ia tak kenal lelah dalam mencari ilmu, ia bersemangat
berangkat kemanapun asal ditempat itu ada majelis Ilmu.
Suatu ketika, Imam al-Ghazali melanjutkan perjalanan
mencari Ilmunya ke sebuah kota yang bernama Jurjan. Jurjan merupakan satu kota
yang berjarak sekitar 160 km dari tempat kelahiran imam al-Ghazali, yaitu Thus.
Di kota Jurjan ini, ada seorang guru yang bernama Abu
Qasim al-Isma'ili. Dan imam al-Ghazali pun berguru kepadanya. Ketika imam
al-Ghazali belajar kepadanya, imam al-Ghazali menyusun satu catatan yang diberi
nama al-Ta'liqat fi Furu al-Madzhab.
Pada suatu hari, di kota jurjan ini, imam al-Ghazali
melakukan satu perjalanan bersama rombongan kafilah. Diperjalanannya imam
al-Ghazali beserta rombongan dirampok. Semua yang barang yang dibawa rombongan
diambil oleh perampok itu, termasuk catatan at-Ta'liqat milik imam al-Ghazali
itu.
Maka imam al-Ghazali pun tak terima catatan at-Ta'liqat
itu diambil, maka ia mengikuti perampok itu dan meminta untuk mengembalikan
at-Ta'liqat miliknya. Siapa nyana, permintaan imam ditertawakan oleh perampok
itu, sambil berkata : "Bagaimana kamu mengaku sudah mendapatkan ilmu?
Ketika kami rampas catatanmu, kini engkau tidak lagi memiliki Ilmu".
Dan akhirnya at-Ta'liqat itu dikembalikan oleh si perampok.
Dari kejadian itu, imam al-Ghazali mendapatkan pelajaran.
Bahwa Ilmu tidak cukup untuk dicatat saja, tetapi harus juga dihafalkan. Maka
setelah kejadian itu, imam al-Ghazali bertekad untuk menghafal semua yang
dicatatnya, agar ia tak perlu merasa khawatir lagi jika kitab atau catatannya
hilang. Siapa nyana, tekad imam al-Ghazali ini tercapai, ia mampu menghafal
semua itu tiga tahun setelah kejadian perampokan ini terjadi.
Maka dari kisah imam al-Ghazali inipun kita belajar dua
hal; pertama, bahwa dalam setiap kejadian buruk yang kita alami,tak sepenuhnya buruk,pasti
saja ada hikmah dibalik itu semua. Allah swt. Selalu saja mempunyai cara unik
untuk mengajarkan kepada manusia arti dari kehidupan. Tak ada yang harus
disesali, semua cukup disyukuri. Kemudian yang kedua adalah kita belajar bahwa
Ilmu tidak hanya apa-apa yang dicatat saja, tetapi apa-apa yang dihafal juga. Maka
tingkatan dalam meraih ilmu itu tidak hanya dicatat saja, tetapi setelah
dicatat itu dihafal, dan setelah dihafal itu diamalkan.
Wal-Lahu a’lam
[1] Dr. Muhammad Ardiansyah, Otoritas
Imam al-Ghazali Dalam Ilmu Hadits : Satu Tinjauan yang Adil, (Depok : Penerbit
Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa Depok, 2020), hal. 5