Muhamad Redho Al Faritzi
|
M |
enulislah untuk keabadian". Begitulah jargon yang sering digaungkan oleh para pecinta tulisan. Khalifah Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata:
"Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang
dapat membahagiakan dirimu di akhirat kelak."
Menulis adalah salah satu kemampuan
berbahasa yang tidaklah mudah dan seringkali dianggap sebagai aspek kegiatan
berbahasa yang sulit. Menulis terkadang menjadi hal sulit bagi mereka yang
lebih suka berbicara. Sebaliknya, berbicara di depan publik cukup menjadi
tantangan bagi mereka yang lebih suka menulis.
Terlepas dari hal itu, menulis
adalah kegiatan yang sangat penting dan harus menjadi bagian dari hidup seorang
manusia, terkhusus bagi seorang muslim. Al-Qur'an itu sendiri sudah menegaskan
bahwa Allah telah mengajarkan menulis kepada manusia dengan menggunakan pena
(qalam).
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsir
surat Al-Alaq ayat 1-5, bahwa Ilmu itu mencakup tiga aspek, yaitu di hati, di
lisan dan tulisan, sehingga ilmu itu adakalanya dalam lisan, adalalanya pula
dalam tulisan.
Pelajaran menulis tidak kalah
pentingnya dari membaca. Relevansi di antara keduanya sangatlah kuat dan erat.
Seseorang yang sering membaca akan banyak sekali ide dan gagasan dalam
pikirannya, sehingga menulis adalah jalan untuk merealisasikan ide dan gagasan
tersebut. Sangatlah disayangkan, jika ide dan gagasan itu hanya diam bersarang
dalam pikiran tanpa direalisasikan.
Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan
para ulama terdahulu. Dalam kesehariannya, mereka tidak lepas dari kegiatan
menulis. Maka tidak heran jika banyak sekali karya-karya para ulama yang hadir
hingga saat ini. Tentunya, itu semua tidak lepas dari produktifnya hidup mereka
dan perhatian yang besar terhadap ilmu dan waktu.
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari misalnya, beliau menulis di setiap
harinya 40 lembar tulisan. Jika dihitung dengan umurnya, maka kurang lebih ia
telah menulis 584.000 lembar. Kemudian ada Imam Abul Wafa bin 'Aqil Al-Hambali,
beliau menulis Kitab Al-Funun dalam 800 jilid, yang di mana di dalamnya berisi
pembahasan tentang tafsir, fikih, nahwu, tarikh, dan masih banyak lagi.
Perhatian yang besar dan semangat
yang tingginya para ulama terdahulu dalam menulis tidak lepas dari pengetahuan
mereka tentang betapa pentingnya menulis. Secara tidak langsung, dengan
karya-karya tulisan mereka itulah yang menjadikan mereka abadi.
Karya-karya mereka yang telah
ditulis berabad-abad lamanya, masih bisa terbaca oleh kita. Ilmu-ilmu yang
mereka tulis, telah dibaca dan diamalkan oleh jutaan manusia. Namanya tetap
harum dan dikenal oleh ribuan bahkan jutaan manusia. Meski jasadnya sudah tidak
ada, tetapi ruhnya masih terasa di sekililing kita.
Oleh karenanya, kegiatan menulis harus dibudayakan. Apa yang ditulis bisa menjadi pahala yang mengali. Di
dalamnya terdapat ilmu-ilmu yang bermanfaat yang secara tidak langsung telah disebarkan.
Benarlah apa yang dikatakan Sayyid Quthb, satu peluru hanya bisa menembus satu
kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala.
Dengan menulis, seseorang mampu menembus ruang dan waktu. Kita yang menulis hanya di ruang kecil saja,
bisa sampai ke penjuru dunia. Kita yang menulis saat ini saja, bisa sampai ke
masa depan. Maka, menulislah untuk memberitahukan kepada masa depan.
Menulislah, untuk menciptakan keabadian.
“Kalau kamu
bukan anak raja dan bukan anak ulama besar,
maka jadilah
penulis.”
-Imam Al-Ghazali
