Muhamad Redho Al Faritzi
|
|
Kalangan feminis sering mengaitkan awal kemunculan paham feminisme di Indonesia dengan gerakan beberapa tokoh perempuan yang menentang penjajah belanda saat itu. Keikutsertaan kaum perempuan saat itu, baik dalam bidang perdagangan, militer, politik, dan kehidupan sosial dianggap sebagai fakta dan simbol kebangkitan menentang penindasan terhadap perempuan Indonesia abad 19 dan sebelumnya. [1] Salah satu tokoh perempuan yang sering dianggap sebagai sejarah awal munculnya feminisme adalah Raden Ajeng Kartini.
Pada tahun 1911, Mr. Jacques Henrij Abendanon, seorang Menteri Agama, Pengajaran, dan Kerajinan Hindia Belanda, mengumpulkan isi surat-menyurat Kartini dengan teman-teman Belandanya (Ny. Abendanon, Stella, Ny. Ovink Soer, dll), ia menyusunnya menjadi sebuah buku dan menerbitkannya tujuh tahun setelah Kartini meninggal. Buku ini kemudian menjadi populer di Indonesia ketika Armijn Pane, seorang pujangga angkatan Balai Pustaka dan sastrawan Indonesia, menerjemahkannya pada tahun 1922 dan memberinya judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.[2]
Menurut Tiar Anwar, buku ini dianggap
memberi inspirasi bagi kaum wanita di Indonesia untuk memperjuangkan harkat dan
martabat seorang wanita untuk bisa sejajar dengan laki-laki. Kata “emansipasi
wanita” pun menjadi tidak asing di Indonesia. Bahkan, karena buku ini, Kartini
pun didaulat menjadi seorang pahlawan wanita kebanggaan Indonesia.[3]
Buku
tersebut memuat 87 surat yang ditulis oleh Kartini kepada teman-teman Belandanya. Dalam surat
tersebut berisikan keinginan, keluhan dan kritikan Kartini. Terdapat 30
surat yang memuat
gagasan feminsime, 18 surat
tentang keinginan Kartini, 15
surat tentang keluhan Kartini, dan 5
surat tentang kritik Kartini kepada adat-istiadat Jawa. [4]
Dalam
surat-suratnya, Kartini menceritakan keluhannya sebagai anak wanita seorang
priyayi Jawa (Bupati). Ia merasa selalu dipandang dan ditempatkan sebagai
makhluk kelas dua setelah saudara laki-lakinya. Perannya dianggap lebih rendah
dibandingkan laki-laki. Ayahnya pun menikah secara poligami yang membuatnya
sangat tidak senang, meski akhirnya ia harus menerima kenyataan menjadi istri
keempat Bupati Rembang.[5]
Salah satu
surat yang Kartini tulis adalah surat yang dikirim pada tanggal 25 Mei
1899 kepada Stella Zeehandelaar:
“Kami, gadis-gadis masih
terantai kepada adat
istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia
dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi
belajar ke sekolah, ke
luar rumah tiap-tiap
hari, demikian itu saja
sudah dikatakan amat
melanggar adat. Ketahuilah, bahwa adat
negeri kami melarang
keras gadis ke
luar rumah. Ketika
saya sudah berumur duabelas
tahun, lalu saya
ditahan di rumah saya mesti masuk “tutupan”;
saya dikurung di
dalam rumah, seorang
diri, sunyi senyap terasing
dari dunia luar.
Saya tiada boleh
keluar ke dunia
itu lagi, bila tiada
serta seorang suami,
seorang laki-laki yang
asing sama sekali bagi kami,
dipilih oleh orang
tua kami untuk
kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya dengan tiada setahu
kami.[6] [7]
Berdasarkan
pengalaman tersebut, kemudian disimpulkan bahwa wanita Indonesia harus bergerak
dan bangkit melawan penindasan ini. Untuk bangkit itu, Kartini bercita-cita
memberi bekal pendidikan kepada anak-anak perempuan, terutama budi pekerti,
agar mereka menjadi ibu yang berbudi luhur, yang dapat berdiri sendiri mencari
nafkah sehingga mereka tidak perlu menikah kalau mereka tidak berkenan.[8] Sampai pada titik ini,
pemikiran-pemikiran feminis Kartini terlihat terang benderang.
Namun,
tegas dikatakan R.A Kartini bukanlah pengusung Feminisme di Indonesia karena
beberapa hal:
Pertama,
pada
akhirnya Kartini memilih untuk meninggalkan pemikiran-pemikirannya tersebut.
Kartini rupanya lebih senang menjadi seorang wanita Jawa yang apa adanya. Ia
memilih untuk menikah, punya anak, dan tidak bekerja mencari nafkah sendiri
seperti yang ia angan-angankan sebelumnya. Bahkan pernikahan poligami yang
sebelumnya sangat ia musuhi dan dianggapnya sangat “diskriminatif” terhadap
wanita akhirnya ia jalani. Keputusan yang diambilnya sangat disayangkan oleh
teman-teman Belandanya, terutama Stella. Stella merasa kecewa atas perubahan
pikiran dalam diri Kartini. Sebagai seorang penganut feminisme yang sudah
mendarah daging, Stella betul-betul tidak dapat mengerti keputusan Kartini.[9]
Kedua,
tidak
berselang lama setelah pernikahannya, Kartini menulis surat kepada J. H.
Abendanon dan istrinya yang menunjukkan bahwa pernikahannya, sekalipun
pernikaan keempat bagi suaminya, sama sekali baik-baik saja: “Kawan-kawan
yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini
diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah,
di rumah itu dalam ‘segala hal’ keadaan saya baik dan me- nyenangkan; di situ
yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia...”[10] Melihat hal ini, rupanya Kartini sendiri
tidak terlihat sama sekali merasa tertindas dan ditindas oleh pernikahan
poligami yang ia jalankan.[11]
Ketiga, Kartini sesungguhnya tidak benar-benar menjadi feminis yang ekstrim: memusuhi laki-laki. Paham feminis yang muncul dalam surat-surat Kartini hampir bisa dipastikan berasal dari dua sumber; sekolahnya di Belanda dan teman-teman Belandanya.
Keempat, Feminisme bagi Kartini hanya sebatas wacana yang
bergolak dalam pikirannya. Selebihnya disampaikan itu dalam surat-suratnya. Bahkan,
Kartini sendiri tidak pernah berniat sama sekali mempublikasikan
pikiran-pikirannya itu, bahkan sampai ia meninggal tahun 1904 dalam usia 25
tahun beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya. Karena surat-surat yang
ditulis Kartini bisa dikatakan hanya “curhatan” bersama teman-temanya, bukan
untuk dipublikasikan apalagi untuk menabur paham Feminisme di Indonesia.[12]
Kelima,
justru
yang mempromosikan pemikiran-pemikiran feminis Kartini ini adalah Mr. Jacques
Henrij Abendanon, menurut Tiar Anwar Bachtiar, secara politis, Abendanon
merupakan penganut aliran etis (baca: liberal) di Belanda. Sehingga wajar jika
kemudian ia mempromosikan ide-ide liberal seperti yang tercermin dalam
surat-surat Kartini. Secara tidak langsung Abendanon ingin mengajarkan
feminisme-liberal kepada masyarakat Indonesia, dengan meminjam tangan anak
bangsa Indonesia sendiri, Kartini. Sehingga ini bisa disebut awal mula benih
feminisme-liberal ditaburkan di bumi Indonesia.[13]
Gerakan
perempuan saat itu tidak bisa serta merta dikaitkan dengan sejarah awal
munculnya feminisme di Indonesia. Menurut Henri Shalahuddin, gerakan perempuan
saat itu merupakan gerakan kultural. Gerakan yang di mana memperjuangkan
niai-nilai budaya, pendidikan, kesusilaan, dam perikemanusiaan. Dalam gerakan
ini pun, tidak dilakukan untuk menentang nilai-nilai agama, budaya atau bahkan
memusuhi kaum laki-laki. [14]
Di
samping hal itu, perempuan dalam tradisi Indonesia sebelum zaman penjajahan
memiliki peranan di luar rumah dan kebebasan bekerja. Bahkan terdapat beberapa
perempuan yang menjadi pemimpin saat itu, salah satunya Adji Sitti yang
memimpin kotabangun di Kalimantan. Prof
G. F. Pijper pun berpendapat bahwa sejarah di Jawa dipenuhi dengan wanita
terhormat yang menduduki jabatan tinggi dalam dunia politik. [15]
Maka bisa
dikatakan bahwa sejarah awal kemunculan feminisme di Indonesia bukanlah lahir
dari para pejuang perempuan saat penjajahan, melainkan ada beberapa faktor lain
yang menyebabkan masuknya paham ini ke Indonesia. Dalam hal ini perlu adanya
penelitian ulang terkait apa faktor penyebab masuknya feminisme ke Indonesia.
[1] Shalahuddin, Ideologi
Gender Dalam Studi Islam: Klarifikasi & Solusi.
[2] Kartini and Mr. J. H. Abendanon, Door Duiternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang (Jakarta:
PT. Buku Seru, 2018).
[3] Hamid
Fahmy Zarkasy, Rasional Tanpa Menjadi
Liberal: Menjawab Tantangan Liberalisasi Pemikiran Islam (Jakarta: INSIST,
2021), bk. 79.
[4] Romi
Oktarian Novasari, Kun Budianto, and Erik Darmawan, “Gagasan Feminisme Dalam
Surat-Surat R.A Kartini,” Jurnal Prodi
Ilmu Politik 1, no. 2 (2022): 68.
[5] Zarkasy, Rasional
Tanpa Menjadi Liberal: Menjawab Tantangan Liberalisasi Pemikiran Islam.
[6] R.A. Kartini, Habis
Gelap Terbitlah Terang, ed. Armijn Pane (Jakarta: Balai Pustaka, 2009).
[7] Romi Oktarian Novasari, “Gagasan Feminisme Dalam
Surat-Surat R.A Kartini Romi” 1, no. 2 (2022): 68–80.
[8] Zarkasy, Rasional
Tanpa Menjadi Liberal: Menjawab Tantangan Liberalisasi Pemikiran Islam.
[9] Ibid.
[10] Sulastin Sutrisno, Surat-Surat
Kartini (Jakarta: Djembatan, 1985).
[11] Tiar Anwar Bahtiar, Jas Mewah: Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah & Dakwah
(Yogyakarta: Pro-U Media, 2018).
[12] Zarkasy, Rasional
Tanpa Menjadi Liberal: Menjawab Tantangan Liberalisasi Pemikiran Islam.
[13] Ibid.
[14] Shalahuddin, Ideologi
Gender Dalam Studi Islam: Klarifikasi & Solusi.
[15] Ibid.
