Problematika Feminisme (2) : Gerakan Feminisme hancur oleh 'Feminisme' itu sendiri




Muhamad Redho Al Faritzi


Dalam perkembangannya, konsep kesetaraan gender ini berkembang menjadi konsep yang abstrak, bias, dan absurd karena sampai saat ini para feminis sendiri belum sepakat mengenai kesetaraan dan kebebasan seperti apa yang diinginkan kaum perempuan. Banyak aliran dan paham tentang konsep kesetaraan yang diinginkan bergantung kepada aliran filsafat, gerakan, dan lingkungan di mana mereka berada.[1]

Mengutip tulisannya Dr. Syamsudin Arif yang berjudul "Menyikapi Feminisme dan Isu Gender"[2], ia menjelaskan bahwa pada beberapa dasawarsa terakhir, gerakan feminis di Barat tampaknya mengalami stigmatisasi dan seakan 'kena batunya'.

Gerakan feminisme di Barat bisa dikatakan hilang arah disebabkan ulah-ulah oknum feminisme itu sendiri. Salah satu oknumnya adalah para feminis radikal. Gerakan ini meradikalisasi feminisme yang pada awalnya hanya menuntut hak-hak perempuan yang hilang, menjadikan gerakan yang bersikap anti laki-laki, mencemooh perempuan, mengutuk sistem patriarki, menghalalkan aborsi, merayakan lesbianisme, revolusi seks, bahkan bagi mereka menjadi seorang istri sama saja dengan disandera dan tinggal bersama suami dianggap sama dengan living with the enemy.

Secara tidak sadar, sikap-sikap inilah yang justru menodai reputasi gerakan feminisme itu sendiri. Reaksi tajam pun berdatangan dari banyak kalangan terhadap radikalisasi feminis ini. Sebagai contoh, komentar dari Pat Robertson, mantan calon Presiden Amerika:

Para feminis itu kerjanya cuma 'mengompori' wanita agar meninggalkan suami dan membunuh anak-anak mereka sendiri, mengamalkan perdukunan, menjadi lesbian dan merontokkan kapitalisme (Feminists encourage women to leave their husbands, kill their children, practise witchcraft, become lesbians and destroy Capitalism).

Komentar lain muncul dari penulis terkenal, Susan Jane Gilman. Dirinya menyatakan kesan serupa. Banyak kaum wanita sekarang ini, keluhnya, menganggap feminisme tidak ketahuan 'juntrungan'nya dan tidak jelas apa maunya. Sementara kalangan lain menilai bahwa wacana feminisme itu elitis, filosofis, ketinggalan zaman, kekanak-kanakkan, dan tidak relevan lagi (For women today, feminism is often perceived as dreary. As elitist, academic, Victorian, whiny and passe).

Dr. Syamsudin Arif melanjukan, bahwa gerakan feminisme juga disalahkan karena dianggap telah mengebiri laki-laki, menyuburkan pergaulan sesama jenis, dan mengubah perempuan menjadi mahluk-mahluk yang gila karir, hidup dalam kesepian, balik ke rumah hanya untuk memberi makan kucing dan anjing. Diakui atau tidak, emansipasi wanita di Barat memang terbukti telah merusak sendi-sendi masyarakat dan menghancurkan nilai-nilai keluarga.

Barangkali karena terlalu radikalnya dan melampaui batas-batas kewajaran yang umum, gerakan feminis di Barat berangsur-angsur surut dan kini nyaris tinggal wacana. Nampak telah terjadi semacam kejenuhan dan keresahan, timbul semacam rasa bersalah karena melawan naluri dan mengingkari kodrat diri sendiri.

Akibatnya muncullah gerakan anti-tesis yang menyeru kaum wanita agar kembali ke pangkal jalan. Membuka arus mewakili arus balik yang menentang feminisme. Dr. Syamuddin menyebutkan beberapa tokoh yang mewakili arus ini, di antaranya; Erin Patria Pizzey (penulis buku Prone to Violence), Caitlin Flanagan (kolumnis tetap the Atlantic Monthly), Iris Krasnow (penulis buku Surrendering to Motherhood),  mantan pengacara F. Carolyn Gruglia (penulis buku Domestic Tranquility) dan Lydia Sherman and Jennie Chancey yang mendirikan yayasan Ladies Against Feminism (LAF).

Menurut hemat mereka, gerakan feminis hanya akan menyengsarakan kaum wanita. Relasi gender tidak harus dipahami sebagai perseteruan dan pertarungan antar kelompok (class struggle) dengan saling menegasikan dan berebut posisi, melainkan dalam perspektif kerjasama dan hubungan timbal-balik, dalam arti saling menopang dan bahu-membahu membangun keluarga, bangsa dan negara, saling melengkapi, saling mengisi dan saling menghargai satu sama lain.

 

Tulisan disadur dari Jurnal Al-Lisan yang bertajuk "Wanita dan Keluarga: Citra Sebuah Peradaban" dalam tulisannya Dr. Syamsuddin Arif yang berjudul "Menyikapi Feminisme dan Isu Gender".

Tulisan lengkapnya bisa dilihat pada link ini. 



[1] Tiar Anwar Bachtiar, Pertarungan Pemikiran Islam Di Indonesia, mengutip dari Dinar Kania Dewi dalam Majalah Islamia, Vol. III No. 5, 2010, hlm. 27-28

[2] Syamsuddin Arif, Menyikapi Feminisme dan Isu Gender, Jurnal Al-Lisan "Wanita dan Keluarga: Citra Sebuah Peradaban, No. 2, Vol. 3, hlm. 93-95