Redefinisi Makna & Esensi Shalawat (2) : Realisasi Cinta Kepada Nabi, Jangan Dikotomi!




Muhamad Redho Al Faritzi


Jika kita amati, mereka (oknum 'shalawatan' –pen) menjadikan shalawat sebagai satu-satunya cara mereka untuk merealisasikan cintanya kepada Nabi saw. Mereka tidak peduli terhadap amalan yang lain, termasuk amalan wajib seperti shalat. Meski tidak semuanya seperti itu atau bisa kita katakan hanya 'oknum' dan segelintir orang saja, namun mereka ini harus tetap dikritik dan diubah pola pikirnya. 

Realisasi cinta kepada Nabi itu banyak wujudnya, bukan shalawat saja. Rasa cinta kepada Nabi bisa dibuktikan dengan mempelajari hadits-haditsnya, mengamalkan sunnah-sunnahnya, meniru akhlaknya, dan membaca, menghafal, mentadaburi Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya.

Sungguh aneh jika ada orang yang rajin ikut majelis-majelis shalawatan dengan dalih cinta kepada Nabi, namun enggan membaca Al-Qur'an (apalagi menghafalnya), mengamalkan sunnah-sunnah Nabi, atau bahkan melupakan shalat sekalipun. Fokusnya hanya shalawat, shalawat, dan shalawat hingga melalaikan shalat. Tidak pernah memperhatikan apakah shalatnya sudah benar atau belum, sudah sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi atau belum, sudah khusyu atau belum. Mereka lupa bahwa shalat adalah amalan pertama yang dihisab.

            Shalawatannya selalu habis-habisan, tapi shalatnya selalu ketinggalan. Seakan-akan menyuarakan "Shalawat lebih wajib daripada Shalat". Aneh tapi nyata. Padahal meski keduanya adalah perintah[1], tetap harus tau mana yang wajib dan diutamakan. Begitu juga sebaliknya, jangan hanya terus terfokus shalat, membaca Al-Qur'an, dan amalan lainnya sehingga meninggalkan shalawat. Seluruh amalan ini perlu adanya integrasi, bukan dikotomi. Masing-masing darinya memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri, termasuk shalawat.

Pahala untuk orang yang bershalawat kepada Nabi saw adalah shalawat (barakah dan kemuliaan) sepuluh kali lipat bagi yang mengucapkannya. Oleh karena itu, meski shalawat ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, namun pada hakikatnya itu adalah do'a untuk para pengucapnya juga. Nabi saw bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَى وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

"Siapa yang shalawat untukku satu kali, maka Allah pasti memberikan shalawat untuknya 10 kali lipat."[2]

Mengingat besarnya pahala shalawat, maka Nabi saw menganjurkan umatnya untuk memperbanyak shalawat kepadanya sehingga konsekuensinya, siapa yang paling banyak shalawatnya, maka ia yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi saw pada hari kiamat nanti, karena memang paling banyak pahalanya.

أُولَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةَ

"Orang yang paling dekat kepadaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku."[3]

Maka dari itu, kita harus kembali memaknai dan memahami apa dan bagaimana shalawat itu sehingga tidak terjerumus pada kekeliruan-kekeliruan dan syubhat yang ada di dalamnya yang menyebabkan kita jauh dari syariat Allah dan ajaran Nabi itu sendiri.



[1] Perintah shalawat kepada Nabi dalam Al-Qur'an tertera dalam surat Al-Ahzab [33] ayat 56. Terjemahnya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya".

[2] Shahih Muslim bab as-shalat 'alan- Nabiy ba'dat-tasyahhud no. 939

[3] Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi fadlis-shalat 'alan-Nabiy no. 484; Shahih Ibn Hibban dzikr al-bayan bi anna aqraban-nas fil-qiyamah no.911